investigasiindonesia.com – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika terus membuktikan diri sebagai mesin penggerak pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB). Kolaborasi strategis antara Mandalika Grand Prix Association (MGPA), InJourney Tourism Development Corporation (ITDC), dan Badan Pusat Statistik (BPS) NTB menghasilkan temuan mencengangkan: event-event besar seperti Pertamina Grand Prix of Indonesia telah menjadi katalis utama lonjakan ekonomi provinsi ini.
Berdasarkan data resmi BPS NTB, pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut mengalami percepatan signifikan sejak digelarnya ajang balap motor dunia tersebut pada 2022. Sektor pariwisata, perhotelan, UMKM, dan transportasi menjadi penyumbang terbesar, dengan peningkatan okupansi hotel mencapai level tertinggi dalam sejarah serta geliat bisnis lokal yang tak pernah segencar ini.
“Dampaknya Luar Biasa,” tegas Wahyudin, Kepala BPS NTB. “MotoGP bukan sekadar ajang olahraga, tapi juga pembuka pintu kemakmuran bagi masyarakat NTB. Data kami menunjukkan kenaikan drastis dalam pendapatan daerah, penyerapan tenaga kerja, dan investasi.”
Pertemuan tiga lembaga ini bertujuan menyelaraskan metodologi penghitungan dampak ekonomi sekaligus merancang strategi jangka panjang untuk memaksimalkan manfaat setiap event di Mandalika. Priandhi Satria, Direktur Utama MGPA, membeberkan fakta mengejutkan: “Tahun 2024 saja, total kunjungan wisatawan mancanegara naik 300%, dengan belanja mereka menyuntikkan triliunan rupiah ke ekonomi lokal.”
Samsul Purba, Wakil Direktur Utama MGPA, menambahkan bahwa kolaborasi dengan BPS dan Bappenas akan menjadi kunci untuk memastikan setiap rupiah yang diinvestasikan dalam event besar memberikan imbal hasil maksimal. Sementara itu, Pari Wijaya dari ITDC menegaskan komitmen untuk terus mengembangkan KEK Mandalika sebagai destinasi premium dunia. “Target kami sederhana: menjadikan NTB sebagai episentrum pariwisata dan investasi di Asia Tenggara,” paparnya.
Dengan rencana pengadaan event-event bertaraf global lainnya di Mandalika, prospek ekonomi NTB diprediksi akan terus meroket. BPS bahkan memperkirakan efek multiplier dari kegiatan ini bisa bertahan hingga lima tahun ke depan. “Ini baru awal. Mandalika sedang menulis sejarah baru sebagai pengubah permainan ekonomi regional,” tutup Wahyudin.


















