Suara gedebuk keras memecah sunyi dini hari di Dusun Jurang Gadung, Desa Suangi Timur, Kecamatan Sakra, Lombok Timur, Selasa (17/12). Waktu menunjukkan pukul 02.30 Wita, saat warga lain tengah lelap. Namun, bagi Husni, pemilik rumah yang menjadi korban, suara itu adalah mimpi buruk yang datang tanpa aba-aba.
“Ledakan keras! Saya pikir ada bom meledak. Tapi ternyata bagian belakang rumah saya sudah rata dengan tanah,” cerita Husni dengan nada getir. Untung saja, malam itu Husni dan anak-anaknya tengah bermalam di rumah kakaknya yang bersebelahan. Nyawa mereka selamat, tetapi dua unit sepeda motor miliknya tak seberuntung itu — hancur tertimbun material longsor.
Langganan Bencana, Tapi Solusi Masih Nol Besar
Longsor kali ini bukan sekadar insiden biasa. Desa Suangi Timur sudah terlalu sering dikepung bencana setiap kali musim hujan tiba. Sekretaris Desa Kamaruddin membenarkan, “Lima dusun terdampak banjir dan longsor, tapi paling parah ya di Jurang Gadung ini.” Ia juga tak menampik, geografis perbukitan yang mengelilingi desa menjadi biang keladi bencana ini. Air yang tumpah ruah dari bukit bagaikan gelombang tsunami kecil, membawa material longsor, pohon tumbang, dan lumpur yang siap melumat apa pun di bawahnya.
Kamaruddin mengeluh, “Setiap tahun selalu begini, tapi penyelesaiannya lamban. Untung kali ini tidak ada korban jiwa.” Namun, tidak ada korban jiwa bukan berarti tidak ada kerugian besar. Husni memperkirakan kerugian mencapai lebih dari Rp 50 juta, belum lagi infrastruktur desa seperti jalan, irigasi, dan rumah warga lain yang mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan.
Rakyat “Melawan” Alam Tanpa Senjata
Setiap musim hujan, warga Dusun Jurang Gadung seperti berada dalam game hidup mati. Tidak ada mitigasi bencana memadai, tidak ada penahan longsor permanen. “Kami cuma bisa berharap-harap cemas setiap hujan deras datang. Ini kan bencana langganan, mestinya ada solusi permanen,” ujar salah satu warga yang ikut membantu membersihkan puing longsor.
Pihak Pemdes telah melaporkan kejadian ini ke BPBD dan Dinas Sosial Lotim. Namun, apakah bantuan datang secepat air bah yang menghancurkan rumah-rumah warga? “Bantuan pasti datang, tapi perbaikan jangka panjang belum jelas,” lanjut Kamaruddin dengan nada pasrah.
Bencana Bukan Lagi Sekadar Takdir
Banyak pihak sepakat, bencana ini bukan lagi hanya “ujian alam” semata. Selain curah hujan ekstrem dan kontur perbukitan, pengelolaan lingkungan yang buruk ikut berkontribusi. Sampah di selokan yang menyumbat aliran air, hingga minimnya perhatian terhadap vegetasi di perbukitan membuat desa ini semakin rentan.
“Kami sudah sering sosialisasi agar warga bersih-bersih selokan, tapi ini kan harus ada sinergi dari semua pihak. Pemerintah harus serius bangun penahan longsor,” tegas Kamaruddin.
Viral atau Dilupakan Lagi?
Bencana ini layak jadi sorotan nasional. Jika tidak, Dusun Jurang Gadung akan terus menjadi korban yang namanya hanya muncul di berita saat bencana datang, lalu hilang ditelan kabut ketidakpedulian.
“Mau sampai kapan kami begini? Hujan satu malam, kerugian puluhan juta. Rumah hancur, motor rusak, mental kami ikut longsor,” tutup Husni sambil menatap sisa-sisa rumahnya yang kini hanya tinggal kenangan.
Pertanyaannya: Apakah kita mau menunggu korban jiwa dulu agar ini jadi perhatian serius?
Jika tidak, sekaranglah saatnya pemerintah, baik daerah maupun pusat, berhenti ‘numpang lewat’ dan mulai membangun solusi nyata. Karena bagi Dusun Jurang Gadung, tiap hujan deras adalah “alarm kematian” yang selalu berbunyi. Dan kali ini, alarm itu harus berhenti.


















