investigasiindonesia.com – Di balik aliran air bersih yang lancar ke rumah-rumah warga, ada kisah perjuangan sunyi yang jarang terlihat. Setiap hari, tim PTAM Giri Menang menaklukkan medan terjal, jurang curam, dan risiko lainnya hanya untuk memastikan setiap tetes air yang sampai ke pelanggan layak dikonsumsi.
Perusahaan ini mengandalkan tiga sumber air: mata air, sungai, dan sumur bor. Namun, dari ketiganya, sumber dari Kali Serepak menjadi yang paling menantang. Untuk mencapai lokasi penampungan di hulu, petugas harus melalui jalur berbatu, lereng licin, dan daerah rawan longsor.
Chairi Abdillah, Asisten Manajer Reservoir dan Perpompaan PTAM Giri Menang, membagikan pengalamannya. “Setiap hari, tim kami turun ke lokasi, tidak peduli hujan atau terik. Di musim hujan, kami harus memastikan sampah tidak menyumbat aliran. Saat kemarau, kami tetap memeriksa pipa agar tidak rusak atau bocor,” ujarnya.
Yang membuat perjuangan mereka lebih berat adalah ketiadaan akses mudah. Tidak ada jalan beraspal atau kendaraan yang bisa masuk. Semua dilakukan dengan berjalan kaki, membawa peralatan seadanya. Namun, bagi mereka, ini bukan sekadar tugas—melainkan tanggung jawab terhadap ribuan keluarga yang bergantung pada air bersih.
“Kami tahu medannya berisiko, tapi selama air yang mengalir ke rumah pelanggan tetap jernih dan aman, itu sudah jadi kepuasan tersendiri,” tambah Chairi.
Cerita ini mungkin tidak pernah viral, tapi bagi warga yang setiap hari membuka keran dan mendapatkan air bersih, peran mereka tak ternilai. Tanpa suara keras, tanpa sorotan media, mereka bekerja dalam diam—menjadi pahlawan tanpa tanda jasa di balik aliran kehidupan.


















