investigasiindonesia.com – Siapa bilang investasi hanya urusan kaum mapan? Di tengah derasnya arus digitalisasi, pasar modal kini tak lagi jadi medan eksklusif bagi kalangan elit. Mahasiswa di kamar kos, pegawai lepas di sudut kafe, bahkan ibu rumah tangga pun bisa ikut berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi nasional—cukup lewat layar ponsel.
Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) NTB, Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana menegaskan bahwa wajah investasi kini telah berubah. Jika dulu pasar modal tampak rumit dan penuh risiko, kini transformasi digital telah membuka pintu bagi siapa saja untuk menjadi investor.
“Berinvestasi di pasar modal sekarang lebih inklusif. Aksesnya mudah, fiturnya lengkap, bahkan bisa dimulai hanya dengan Rp100 ribu,” ujarnya, kemarin (18/7).
Pasar modal sendiri adalah tempat bertemunya investor dengan perusahaan yang membutuhkan pendanaan. Namun lebih dari itu, ini adalah wadah di mana siapa pun bisa ‘memiliki’ bagian kecil dari perusahaan besar—mulai dari sektor teknologi, perbankan, energi, hingga retail.
Menurut Sandiana, kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, mulai tumbuh. Bukan hanya soal ‘cuan’, tapi juga tentang perencanaan jangka panjang: dana pensiun, biaya pendidikan, hingga tabungan rumah.
“Pasar modal bukan jalan pintas untuk cepat kaya. Tapi ini adalah kendaraan jangka panjang yang bisa membawa kita ke tujuan finansial,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya diversifikasi agar risiko bisa dikelola dengan baik. “Jangan taruh semua telur dalam satu keranjang,” pesannya. “Sebar investasi di berbagai sektor.”
Dengan bantuan aplikasi investasi, kini anak muda bisa memantau harga saham real-time, membaca analisis industri, hingga belajar strategi investasi sambil bermain game edukatif. Semuanya hanya sejauh satu sentuhan layar.
“Mulai saja dulu,” tutup Sandiana, “karena masa depan keuanganmu dimulai dari langkah kecil hari ini.”


















