banner 728x250

Ketika Rakyat Dijadikan Mangsa di Tengah Stok Melimpah

banner 120x600
banner 468x60

investigasiindonesia.com – Ironi tragis tengah terjadi di tanah air. Saat stok beras melimpah hingga 4,6 juta ton, harga di pasaran justru melonjak. Di balik ketimpangan ini, terkuak praktik curang sejumlah perusahaan besar yang tega memainkan nasib rakyat demi keuntungan semata.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah (22/7), mengungkap skandal manipulasi beras yang melibatkan perusahaan-perusahaan raksasa. Presiden Prabowo Subianto bahkan menyebut pelaku-pelaku ini sebagai “vampir pengisap darah rakyat.”

banner 325x300

“Mereka mengurangi takaran beras kemasan, dari 5 kg jadi 4,5 kg. Bayangkan, kalau jutaan kantong seperti itu dikurangi setengah kilo, berapa ton yang hilang dari rakyat?” tegas Tito.

Modus lain yang lebih kejam adalah pengoplosan beras premium dengan kualitas medium, lalu tetap dijual dengan harga premium. Penipuan terselubung ini bukan hanya melanggar hukum, tapi juga mencederai kepercayaan publik terhadap sistem distribusi pangan nasional.

Lebih memilukan, praktik ini terjadi saat rakyat tengah berjibaku menghadapi tekanan ekonomi. Stok ada, panen berhasil, tapi harga terus naik — karena ulah segelintir korporasi rakus.

“Rakyat yang harusnya ditolong malah dihisap darahnya,” lanjut Tito, menyuarakan keprihatinan mendalam Presiden.

Tak hanya beras, Tito juga menyoroti lonjakan harga bawang merah dan cabai rawit. Meski bukan makanan pokok, fluktuasi harga dua komoditas ini terus menjadi penyumbang inflasi yang menyakitkan dompet rakyat kecil.

Skandal ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah dan pusat untuk memperketat pengawasan pascapanen serta distribusi pangan. Jangan sampai keberhasilan panen dan cadangan melimpah justru dimanfaatkan para spekulan untuk mengeruk untung di atas penderitaan rakyat.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *