banner 728x250
Berita  

Perpustakaan Rp 10 Miliar,Mimpi Besar Kota Mataram atau Hanya Bangunan Megah?

banner 120x600
banner 468x60

Kota Mataram akhirnya memiliki gedung perpustakaan yang disebut-sebut sebagai “Simbol Peradaban Baru.” Dengan megah berdiri di Jalan Lingkar Selatan, tepat di depan Monumen Mataram Metro, gedung ini diresmikan langsung oleh Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, pada Kamis (19/12). Namun, apakah ini benar langkah maju menuju literasi, atau hanya menjadi gedung megah yang sepi pengunjung?

Perpustakaan ini dibangun dengan anggaran fantastis sebesar Rp 10 miliar dari Dana Alokasi Khusus (DAK) pemerintah pusat tahun 2023. Berlokasi strategis di lahan seluas 6,5 hektare, gedung ini dilengkapi fasilitas modern yang diklaim sebagai pusat literasi digital, ruang kolaborasi, dan bahkan tempat pelaku UMKM mengembangkan bisnis berbasis teknologi dan kearifan lokal.

banner 325x300

“Ini bukan sekadar perpustakaan tradisional. Kita ingin ini menjadi pusat inspirasi, tempat lahirnya ide-ide besar bagi masyarakat Kota Mataram,” ujar Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Mataram, Jemmy Nelwan.

Gedung Megah, Tapi Siapa yang Datang?
Wali Kota Mataram dalam pidatonya menyebut bahwa perpustakaan ini harus berevolusi dari sekadar tempat menyimpan buku. “Kita ingin perpustakaan ini menjadi ruang kolaborasi,” ujarnya. Namun, tantangannya jelas: minat baca masyarakat Kota Mataram masih rendah. Apakah masyarakat akan tertarik mengunjungi perpustakaan ini, ataukah fasilitas ini akan berakhir sebagai “monumen sunyi”?

Fakta menunjukkan bahwa di Indonesia, literasi bukan hanya soal gedung atau buku. Anak-anak dan masyarakat luas membutuhkan dorongan nyata untuk membaca, baik melalui program edukasi menarik maupun kampanye literasi yang berkelanjutan. Tanpa itu, gedung mewah ini berisiko menjadi sekadar “pajangan” di kota.

Peran Perpustakaan di Era Digital
Jemmy Nelwan menyoroti pentingnya transformasi perpustakaan. “Kini perpustakaan harus mendukung literasi digital dan numerasi, bahkan menjadi pendamping masyarakat dalam menggali potensi lokal,” katanya. Gedung ini dilengkapi ruang kreatif untuk anak-anak, penyandang disabilitas, pelajar, dan mahasiswa. Namun, apakah fasilitas ini cukup untuk mengatasi tantangan literasi digital di era informasi yang sangat cepat ini?

Apresiasi, Tapi Harapan Tinggi
Peresmian gedung ini juga dihadiri oleh Inspektur Perpustakaan Nasional, Wahyu Nurhayati, yang mengapresiasi komitmen Kota Mataram. Namun, harapan besar yang disematkan pada perpustakaan ini harus diimbangi dengan program-program nyata yang menyentuh masyarakat akar rumput.

“Saya berharap Kepala Dinas bisa terus memperkaya koleksi bacaan dan mengadakan kegiatan-kegiatan menarik untuk anak-anak,” ungkap Wali Kota.

Namun, program saja tidak cukup. Tanpa strategi yang konkret dan dukungan semua pihak, gedung ini bisa menjadi salah satu dari sekian proyek megah yang kehilangan makna di mata masyarakat.

Arah Masa Depan atau Beban Baru?
Di atas kertas, perpustakaan ini adalah kebanggaan Kota Mataram. Tetapi realitas di lapangan akan menjadi penentu. Apakah Rp 10 miliar ini akan benar-benar menciptakan masyarakat yang cerdas, kreatif, dan inovatif? Atau hanya menjadi “pusat selfie” sementara masyarakat masih jauh dari literasi yang diharapkan?

Gedung megah ini sekarang adalah milik masyarakat Kota Mataram. Pertanyaannya, apakah masyarakat siap memanfaatkan fasilitas ini, ataukah kita akan menyaksikan cerita klasik lain tentang infrastruktur besar yang gagal menyentuh hati rakyat? Waktu yang akan menjawab.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *