investigasiindonesia.com – Kedatangan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), ke NTB menjadi momen krusial bagi daerah untuk bersuara lantang: apa kabar megaproyek infrastruktur yang dijanjikan?
Dua proyek strategis, yakni jalan tol Lembar–Kayangan dan bypass Sengkol–Kayangan, masih menggantung di udara. Masyarakat dan DPRD NTB mendorong Gubernur Lalu Muhamad Iqbal untuk tidak hanya menyambut, tapi juga menggugat secara elegan: apakah pusat serius membangun NTB atau sekadar memberi harapan?
“Jangan hanya seremonial. Kedatangan Menko AHY harus dimanfaatkan untuk menuntut komitmen konkret pusat,” tegas Anggota Komisi IV DPRD NTB, Abdul Rohim, kemarin (28/7). Ia menilai proyek jalan tol Lembar–Kayangan seolah berjalan di tempat. Selain biayanya selangit—lebih dari Rp 20 triliun—waktu pengerjaannya pun diprediksi molor hingga lima tahun.
Sebagai alternatif yang lebih realistis, kini muncul wacana pembangunan bypass Sengkol–Kayangan sepanjang 50 kilometer dengan nilai investasi Rp 2,5 triliun. Meski lebih murah dan pendek, tetap saja NTB tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan anggaran dari pusat.
“Infrastruktur itu nyawa ekonomi. Tapi kita tidak bisa gerak kalau pusat hanya menonton,” sindir Bram, sapaan akrab Abdul Rohim.
Hal senada disampaikan Sekretaris Komisi III DPRD NTB, Raden Nuna Abriadi. Ia menekankan bahwa ambisi menjadikan NTB sebagai destinasi wisata kelas dunia akan tinggal mimpi tanpa jaringan infrastruktur yang solid.
“Gubernur punya visi, tapi kita butuh jalannya. Butuh jembatannya. Dan itu semua belum bisa dibangun hanya dengan APBD NTB,” tegasnya.
Faktanya, hampir 70 persen belanja daerah NTB masih mengandalkan dana transfer dari pusat. Ketimpangan fiskal ini menjadi tembok besar dalam mengejar ketertinggalan konektivitas wilayah.
Kini bola ada di tangan Menko AHY. Apakah kunjungannya ke NTB akan jadi awal baru bagi pemerataan pembangunan, atau hanya sekadar safari politik tanpa solusi?


















