investigasiindonesia.com – Ketika sektor pertambangan NTB mengalami penurunan tajam dan menyeret pertumbuhan ekonomi triwulan I 2025 ke angka negatif, denyut ekonomi masyarakat justru menunjukkan arah berlawanan. Data resmi mencatat, ekonomi NTB secara agregat terkontraksi -1,47% (year-on-year) dan -2,32% (quarter-to-quarter), terutama karena turunnya kontribusi sektor tambang yang selama ini menjadi pilar utama perekonomian daerah.
Namun, di balik angka-angka suram itu, terdapat tanda-tanda ketahanan ekonomi lokal yang membanggakan. Jika sektor tambang dikeluarkan dari perhitungan, ekonomi NTB justru mencatat pertumbuhan positif sebesar 5,57% (y-on-y) dan 0,95% (q-to-q). Ini adalah sinyal kuat bahwa roda ekonomi di sektor produktif seperti pertanian, perdagangan, jasa, dan UMKM masih berputar dengan stabil bahkan di tengah tekanan.
“Ini yang mencerminkan geliat ekonomi masyarakat di sektor-sektor produktif non-tambang,” ujar Ratih Hapsari Kusumawardani, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi NTB, di Mataram, Jumat.
Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat penting bahwa ketahanan ekonomi tidak semata bertumpu pada sektor besar dan ekspor, tetapi juga pada aktivitas harian masyarakat yang terus bergerak, berdagang, menanam, menjual, dan melayani.
Kondisi ini membuka ruang refleksi baru bagi para pengambil kebijakan: sudah saatnya NTB memandang sektor produktif masyarakat sebagai penopang utama, bukan sekadar pelengkap di balik gemerlap industri ekstraktif. Bila dikelola dan didorong dengan serius, sektor non-tambang justru bisa menjadi lokomotif baru pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih merata dan berkelanjutan.


















