investigasiindonesia.com – Tingkat hunian kamar (TPK) hotel di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Juni 2025 menunjukkan tren positif, namun di balik itu tersimpan tantangan baru: rata-rata lama menginap wisatawan justru menurun.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat, TPK hotel bintang naik 2,35 poin menjadi 41,10 persen, sementara hotel nonbintang naik 1,70 poin menjadi 33,43 persen dibanding Mei 2025. Jumlah tamu juga bertambah signifikan. Hotel bintang mencatat 110.404 tamu, sedangkan nonbintang 136.942 tamu.
Meski demikian, rata-rata lama menginap mengalami penurunan. Tamu hotel bintang turun dari 1,93 hari menjadi 1,88 hari, sedangkan hotel nonbintang turun dari 1,63 hari menjadi 1,56 hari. Artinya, wisatawan cenderung melakukan kunjungan singkat sebelum berpindah atau kembali ke daerah asal.
“Durasi tinggal berbanding lurus dengan dampak ekonomi. Semakin lama wisatawan tinggal, semakin besar pengeluaran yang masuk ke daerah,” kata Kepala BPS NTB, Wahyudin.
Di sisi lain, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) turun hampir 10 persen menjadi 7.784 orang. Sebaliknya, wisatawan nusantara (wisnus) meningkat 10 persen menjadi 1,29 juta orang.
Kondisi ini menegaskan bahwa pasar domestik masih menjadi tulang punggung pariwisata NTB. Namun, tanpa strategi untuk memperpanjang masa tinggal, potensi ekonomi dinilai belum optimal.
Para pelaku wisata dan pemerintah daerah didorong menerapkan langkah inovatif seperti:
Mengembangkan paket wisata tematik
Menawarkan pengalaman berbasis aktivitas (experiential tourism)
Meningkatkan konektivitas antar destinasi
Memperkuat event berskala nasional dan internasional
Dengan langkah terukur, kenaikan okupansi dapat diikuti peningkatan durasi tinggal sehingga dampak ekonomi pariwisata NTB akan jauh lebih maksimal.


















