investigasiindonesia.com – Lonjakan harga bawang merah di sejumlah pasar di Nusa Tenggara Barat (NTB) memaksa banyak rumah tangga mengubah pola belanja mereka secara drastis. Dari yang biasanya membeli kiloan, kini sebagian besar hanya membawa pulang seperempat atau setengah kilogram bawang merah setiap belanja.
Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp36.000–Rp38.000 per kilogram, kini melonjak tajam menjadi Rp60.000–Rp70.000 per kilogram, tergantung ukuran. “Kalau yang kecil beda Rp3.000–Rp5.000 per kilo. Pembeli sekarang sering bilang mahal, jadi beli sedikit saja, cukup buat masak sehari,” keluh Rohmah, pedagang di Pasar Pagesangan, Rabu (6/8/2025).
Kondisi serupa terjadi di Pasar Induk Mandalika. Mahmudah, pedagang bawang merah, menyebut kenaikan harga berlangsung perlahan namun pasti dalam dua pekan terakhir. “Yang besar-besar sekarang Rp55 ribu per kilo, tapi masih naik terus,” ujarnya.
Kenaikan harga ini disebut para pedagang terjadi akibat tersendatnya pasokan dari pengepul. Stok di tingkat grosir menipis, membuat harga di pasar sulit dikendalikan. “Katanya dari pengepul barangnya lagi susah, jadi kita belinya juga sudah mahal,” tambah Rohmah.
Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat, bawang merah menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi tertinggi pada Juli 2025. Inflasi bulan itu tercatat sebesar 0,17 persen (month-to-month), dengan bawang merah memberi andil sebesar 0,06 persen, sejajar dengan beras, ikan tongkol, cabai merah, dan tomat.
Dari sisi wilayah, inflasi bulanan tertinggi terjadi di Kota Bima (0,48 persen), disusul Kota Mataram (0,25 persen). Sementara Kabupaten Sumbawa justru mengalami deflasi tipis sebesar 0,03 persen. “Seluruh wilayah IHK di NTB mengalami inflasi pada Juli,” jelas Kepala BPS NTB, Wahyudin.
Bagi sebagian warga, lonjakan harga bawang merah ini bukan sekadar angka di laporan inflasi, tapi persoalan dapur sehari-hari. Mereka harus memutar otak agar masakan tetap lezat meski bumbu andalan semakin mahal.


















