investigasiindonesia.com – Misteri kematian Brigadir Muhammad Nurhadi mulai terkuak. Melalui rekonstruksi yang digelar Senin (11/8), penyidik Polda NTB berhasil merangkai ulang 85 adegan yang menggambarkan detik-detik terakhir korban sebelum meregang nyawa.
Rekonstruksi yang dihadiri tiga tersangka Kompol I Made Yogi Purusa Utama, Ipda Haris Chandra, dan Misri Puspita Sari digelar di beberapa lokasi, mulai dari Polda NTB, rumah Kompol Yogi, dermaga Senggigi, hingga Gili Trawangan yang menjadi titik kunci kasus ini.
“Dari rekonstruksi ini, kita sudah punya gambaran jelas bagaimana korban meninggal dunia,” ungkap Dirreskrimum Polda NTB Kombes Pol Syarif Hidayat.
Salah satu temuan penting adalah hasil forensik yang menunjukkan adanya bekas lebam di wajah korban, diduga akibat hantaman cincin akik. Dari penelusuran, cincin tersebut ternyata milik salah satu tersangka. “Yang punya Ipda HC,” tegas Syarif, merujuk pada Ipda Haris Chandra.
Lebih jauh, ahli bela diri yang dihadirkan dalam rekonstruksi mengungkap bahwa teknik pembunuhan bukan dilakukan dengan mencekik, melainkan dipiting — sebuah teknik yang hanya dikuasai orang dengan pengalaman bela diri. Baik Kompol Yogi maupun Ipda Haris diketahui memiliki latar belakang latihan bela diri, sehingga keduanya dianggap mampu melakukan aksi mematikan tersebut.
Meski demikian, Syarif belum menyebutkan siapa pelaku utama. “Semua masih berstatus tersangka,” ujarnya.
Ketiga tersangka dijerat Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, atau Pasal 351 ayat (3) tentang penganiayaan yang mengakibatkan kematian, atau Pasal 359 tentang kelalaian yang menyebabkan orang meninggal dunia. Jaksa peneliti dari Kejati NTB menyebut kasus ini sudah semakin terang dan mengerucut, namun pendalaman masih terus dilakukan.
“Cincin akik itu sudah kami minta untuk disita. Kasus ini akan dibuat semakin terang,” kata Aspidum Kejati NTB Irwan Setiawan Wahyuhadi.
Dengan 85 adegan yang diperagakan, misteri kematian Brigadir Nurhadi kini perlahan terbuka meninggalkan satu pertanyaan besar yang masih menunggu jawaban: siapa tangan yang benar-benar menghabisi nyawa sang brigadir?


















