Kabupaten Lombok Utara (KLU) mencatat sejarah baru dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana. Uji coba sistem diseminasi informasi dan respons kesiapsiagaan bencana gempa bumi dan tsunami yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KLU menjadi salah satu latihan terbesar di wilayah ini.
Latihan yang berlangsung dari 2 hingga 6 Desember 2024 ini bertujuan meningkatkan ketangguhan KLU menghadapi ancaman bencana, terutama di kawasan rawan seperti tiga Gili. Kabid Kebencanaan dan Logistik BPBD KLU, Putra, menegaskan pentingnya simulasi ini. “Ancaman megathrust menjadi perhatian serius, terutama di Lombok bagian selatan. Namun, kami tak bisa mengabaikan risiko yang mengintai kawasan tiga Gili. Oleh karena itu, simulasi ini sangat penting,” ujarnya.
Kegiatan yang dipusatkan di eks halaman kantor bupati pada 4 Desember menjadi puncak rangkaian latihan. Tiga bentuk latihan utama diterapkan: Table Top Exercise (TTX), Command Post Exercise (CPX), dan Field Training Exercise (FTX). Setiap metode dirancang untuk melatih berbagai aspek kesiapsiagaan, mulai dari koordinasi antar-pemangku kepentingan hingga simulasi teknis di lapangan.
Latihan Bertaraf Nasional
TTX berfungsi sebagai tahap awal untuk menyusun strategi dan materi pelatihan berikutnya. CPX kemudian menjadi arena bagi unsur pimpinan untuk mengasah keterampilan dalam operasi tanggap darurat. Puncaknya, FTX menantang kemampuan satuan tugas dalam menerapkan prosedur teknis di lapangan berdasarkan hasil evaluasi sebelumnya.
“Ini bukan sekadar latihan biasa. Ini adalah upaya menyeluruh untuk memastikan semua elemen, dari masyarakat hingga pemangku kebijakan, siap menghadapi bencana besar. Kami tak hanya bicara soal prosedur, tapi juga kolaborasi lintas sektor,” jelas Putra.
Memperkuat Ketangguhan KLU
Latihan ini tak hanya bertujuan melatih keterampilan teknis, tetapi juga memperkuat interoperabilitas atau keterpaduan operasi antar-pihak yang terlibat. Sinergi ini dianggap penting untuk menghadapi kompleksitas penanggulangan bencana. “Kami ingin memastikan bahwa ketika bencana datang, penanganan bisa dilakukan dengan cepat, tepat, dan terpadu. Dampak kerusakan mungkin tak bisa dihindari, tapi korban jiwa dan kerugian lain bisa diminimalkan,” tambahnya.
Simulasi ini menjadi refleksi atas pengalaman pahit bencana gempa bumi 2018, yang menyebabkan kerugian besar di KLU. Dengan kesiapan lebih baik, KLU diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain dalam menghadapi ancaman bencana.
Ancaman Nyata di Depan Mata
Megathrust bukan lagi sekadar isu, melainkan ancaman nyata yang memerlukan kesiapan maksimal. Lokasi strategis KLU yang mencakup tiga Gili menjadikannya salah satu wilayah paling rawan di Indonesia. Latihan besar ini menjadi bukti keseriusan pemerintah daerah dan nasional dalam melindungi masyarakatnya.
“Harapan kami, latihan ini tidak berhenti di sini. Ini harus menjadi rutinitas agar kesiapsiagaan selalu terjaga,” tegas Putra. Dengan dukungan penuh BNPB dan BPBD, KLU siap menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian dengan ketangguhan yang teruji.
Jika ancaman megathrust benar-benar terjadi, KLU akan menjawabnya dengan kesiapan tanpa tanding.


















