6 Desember – Dua destinasi wisata alam unggulan di Kabupaten Lombok Tengah, yaitu Air Terjun Benang Stokel dan Benang Kelambu, menjadi sorotan publik. Meski menarik ribuan wisatawan setiap bulannya, kawasan wisata yang berada di Desa Aik Berik, Kecamatan Batukliang Utara, ini sama sekali tidak menyumbangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ironisnya, di tengah upaya pemkab menata infrastruktur, pengelolaan lokasi ini sepenuhnya berada di bawah Pemprov NTB dan kelompok masyarakat setempat.
Sejak pengambilalihan oleh Pemprov NTB, Pemkab Lombok Tengah kehilangan hak atas pengelolaan sekaligus kontribusi dari destinasi wisata tersebut. Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Pariwisata Lombok Tengah, Zamzuri, mengungkapkan kekecewaannya atas kondisi ini.
“Dulu, ketika masih dikelola pemkab, PAD cukup signifikan. Berbagai penataan dilakukan, seperti pembangunan musala, kamar mandi, jalan setapak, dan gerbang masuk. Namun, saat ini, meski wisatawan melonjak hingga ratusan orang per hari, kami tidak mendapat sepeser pun untuk daerah,” ujar Zamzuri.
Destinasi Populer Tanpa Kontribusi Lokal
Air Terjun Benang Stokel dan Benang Kelambu terkenal dengan pesona alam yang memukau. Wisatawan lokal maupun mancanegara kerap menjadikan tempat ini sebagai destinasi utama saat berkunjung ke Lombok. Data menunjukkan, rata-rata pengunjung harian mencapai ratusan orang, terutama di musim liburan. Sayangnya, pendapatan dari tiket masuk maupun fasilitas lain tidak tercatat dalam kas daerah Lombok Tengah.
“Jalan yang dilewati adalah jalan kabupaten. Wisatawan yang datang, baik domestik maupun internasional, mengeluhkan fasilitas, tetapi kontribusinya ke daerah nihil. Harusnya ada persentase yang masuk untuk pemkab,” tambah Zamzuri.
Ironi di Tengah Potensi Besar
Situasi ini semakin kontras jika dibandingkan dengan destinasi wisata lain di Lombok Tengah, seperti Desa Aik Bukak. Dengan target PAD sebesar Rp 100 juta, Desa Aik Bukak berhasil melampaui target hingga lebih dari 100 persen tahun ini. Sementara itu, Benang Stokel dan Benang Kelambu, meski ramai dikunjungi, tidak memberikan dampak finansial untuk daerah.
“Dengan potensi sebesar itu, kami berharap ada evaluasi dan koordinasi antara Pemprov NTB, Pemkab Lombok Tengah, dan stakeholder terkait. Jangan sampai destinasi yang menjadi kebanggaan justru tidak memberikan manfaat kepada masyarakat setempat,” harap Zamzuri.
Harapan untuk Kontribusi yang Adil
Pemkab Lombok Tengah berharap pengelolaan destinasi ini dapat memberikan kontribusi yang lebih adil ke depannya. Koordinasi antara pemerintah daerah, provinsi, dan pengelola lokal menjadi langkah mendesak untuk memastikan potensi wisata ini tidak hanya menguntungkan segelintir pihak.
“Kami terus berupaya menggali potensi PAD dari berbagai sumber. Namun, untuk lokasi strategis seperti Benang Stokel dan Benang Kelambu, harus ada kejelasan kontribusi. Kami optimistis, jika ini diatur dengan baik, PAD dari lokasi ini dapat menjadi penopang utama pembangunan daerah,” tandas Zamzuri.
Benang Stokel dan Benang Kelambu, dengan pesonanya yang memikat, tidak hanya menyimpan keindahan alam tetapi juga potensi besar untuk kesejahteraan masyarakat Lombok Tengah. Jika dikelola dengan bijak dan adil, destinasi ini dapat menjadi contoh bagaimana pariwisata berkelanjutan dapat mendukung pembangunan daerah.


















