Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kini memasuki fase darurat Tuberkulosis (TBC) dengan jumlah kasus mencapai angka mengejutkan, 19.000 kasus sepanjang tahun 2024. Angka ini menjadi peringatan keras terhadap kondisi kesehatan masyarakat di NTB, menegaskan bahwa TBC adalah ancaman nyata yang tidak mengenal batas ekonomi maupun sosial.
Meski menjadi program prioritas pemerintah, tantangan utama tetap ada: deteksi kasus. Saat ini, NTB baru mampu mengidentifikasi kurang dari 50 persen dari estimasi jumlah kasus. Dengan tingkat keberhasilan yang masih di bawah setengah jalan, ancaman penyebaran TBC semakin nyata.
Sebagai negara dengan beban TBC tertinggi kedua di dunia setelah India, Indonesia membawa beban besar dalam melawan penyakit ini. NTB berada di posisi tengah dalam tingkat prevalensi TBC nasional, namun ironisnya masih belum mampu mencapai target penanganan yang memadai. Pada tahun 2023, NTB mendapat apresiasi atas keberhasilan menemukan 54 persen kasus, tetapi pencapaian tersebut dianggap belum cukup untuk mengimbangi tingginya estimasi kasus yang ada.
“Tidak ada yang kebal terhadap TBC,” menjadi pesan penting dari kondisi darurat ini. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, dari lapisan ekonomi mana pun, menegaskan pentingnya kesadaran dan kepedulian kolektif untuk melawan penyebarannya.
Krisis Deteksi dan Penanganan
Deteksi kasus TBC dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pasif dan aktif. Pendekatan pasif menunggu pasien datang melaporkan gejalanya ke fasilitas kesehatan, sedangkan pendekatan aktif melibatkan upaya proaktif untuk mencari kasus di tengah masyarakat. Sayangnya, pendekatan aktif masih membutuhkan dukungan lebih besar, terutama di tingkat fasilitas kesehatan dasar dan komunitas.
Pemprov NTB telah menggandeng fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), klinik swasta, dan komunitas untuk meningkatkan kapasitas tenaga medis. Namun, tanpa partisipasi masyarakat secara luas, upaya ini hanya menjadi setengah langkah.
TBC: Penyakit yang Tak Lagi Tersembunyi
Pemerintah Provinsi NTB menekankan pentingnya kesadaran bahwa TBC bukan hanya penyakit masyarakat kelas bawah. Dengan tingkat penularan yang tinggi, penyakit ini bisa menyasar siapa saja, termasuk masyarakat kelas menengah ke atas. Bahkan, kondisi ini menjadi perhatian nasional karena dampaknya yang begitu luas, baik pada sektor kesehatan maupun ekonomi.
Harapan di Tengah Ancaman
Dengan status darurat ini, NTB tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas menjadi kunci dalam mengatasi ancaman ini. Kampanye edukasi, deteksi aktif, dan peningkatan kapasitas tenaga medis harus berjalan beriringan untuk mencapai target eliminasi TBC di Indonesia pada tahun 2030.
Darurat ini menjadi pengingat penting bahwa setiap individu memiliki peran dalam memerangi TBC. Keterlibatan aktif masyarakat untuk mendeteksi, melaporkan, dan mendukung pengobatan pasien TBC menjadi harapan besar agar provinsi ini dapat keluar dari bayang-bayang krisis kesehatan yang mematikan ini.
Dengan angka yang begitu besar, pertanyaannya bukan lagi “kapan TBC akan menyerang?”, tetapi “apa yang akan kita lakukan untuk menghentikannya?”.


















