banner 728x250
Berita  

7.500 Warga KLU Berpotensi Terkena DBD di Awal Tahun 2025 Jika Tidak Ada Langkah Nyata

banner 120x600
banner 468x60

Memasuki musim hujan, Kabupaten Lombok Utara (KLU) dihadapkan pada ancaman serius penyakit demam berdarah dengue (DBD). Dinas Kesehatan KLU memperkirakan, tanpa tindakan pencegahan yang signifikan, sebanyak 7.500 warga berisiko terpapar penyakit ini di awal tahun 2025.

Prediksi ini didasarkan pada pola musiman dan tren penyebaran yang konsisten setiap tahunnya. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan KLU, Suhardi, menyatakan bahwa lonjakan kasus DBD sering terjadi pada kuartal pertama setiap tahun. “Kita tidak boleh lengah. Langkah waspada dini sangat penting untuk menghindari kondisi darurat,” tegasnya, Minggu (8/12).

banner 325x300

Nyamuk aedes aegypti, sebagai vektor utama DBD, berkembang biak dengan cepat di tempat-tempat tergenang air. Barang-barang seperti bak mandi, tong air, ban bekas, hingga botol plastik dapat menjadi sarang bertelur jika tidak segera ditangani. “Kita harus membersihkan lingkungan, baik di dalam maupun di luar rumah,” kata Suhardi.

Tren Kasus Menurun, Tapi Risiko Tetap Tinggi

Meski data menunjukkan penurunan kasus dalam tiga bulan terakhir (31 kasus di September, 39 kasus di Oktober, dan 15 kasus di November), ancaman tetap nyata. Diperkirakan musim hujan yang akan datang berpotensi meningkatkan populasi nyamuk hingga tiga kali lipat dibanding bulan-bulan kering.

“Langkah preventif seperti 3M Plus harus menjadi rutinitas harian warga. Jangan menunggu sampai ada kasus,” ungkap Suhardi. Langkah 3M Plus ini mencakup menguras tempat penampungan air, menutup wadah air rapat-rapat, mengubur barang bekas yang berpotensi menampung air, serta penggunaan repelen dan kelambu.

Warga Diminta Tidak Menyepelekan Gejala

Suhardi juga mengingatkan pentingnya mengenali gejala DBD. “Jika ada anggota keluarga yang demam selama lebih dari dua hari tanpa tanda-tanda turun, segera periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat. Jangan tunda,” katanya. Penundaan penanganan DBD kerap menjadi penyebab utama komplikasi serius hingga kematian.

Membangun Ketahanan Komunitas

Dinkes KLU kini fokus pada kampanye edukasi di desa-desa rawan DBD. Ratusan kader kesehatan akan dikerahkan untuk memberikan penyuluhan, membagikan abate, dan menggerakkan kerja bakti massal. “DBD bukan hanya masalah kesehatan individu, tapi masalah komunitas. Semua pihak harus bergerak bersama,” tambah Suhardi.

Meski langkah-langkah ini terus digalakkan, tantangan terbesar tetap pada konsistensi masyarakat dalam menjalankan pencegahan. “Jika setiap warga bisa memutus siklus nyamuk di rumahnya sendiri, kita bisa mencegah ribuan kasus dan menyelamatkan nyawa,” tutupnya.

Catatan Penting: Tidak Ada Tempat untuk Ragu
Dengan jumlah penduduk KLU yang mencapai 250.000, potensi 7.500 kasus di awal tahun 2025 setara dengan 3% populasi. Jika langkah kolektif tidak segera dilakukan, wilayah ini berpotensi mengalami lonjakan kasus tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Pemerintah dan masyarakat harus bersatu untuk memastikan musim hujan ini tidak membawa bencana kesehatan.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *