banner 728x250
Berita  

15 Ribu Ton Beras Impor, Bulog NTB Siap Jadi Pusat Transit untuk Stabilitas Stok Nasional

banner 120x600
banner 468x60

Hingga saat ini, rencana impor 15 ribu ton beras dari Pakistan dan Myanmar menjadi pembahasan panas di kalangan pemangku kebijakan. Perum Bulog NTB masih menunggu keputusan final dari pemerintah pusat mengenai masuknya komoditas ini ke wilayah NTB.

“Kami masih menunggu kepastian dari pusat terkait impor ini. Semua dokumen dan pengaturan lainnya masih berada di tangan pusat. Sampai sekarang belum ada perkembangan signifikan,” ujar Wakil Pimpinan Wilayah Perum Bulog NTB, Musasdin Said.

banner 325x300

Musasdin menjelaskan, pemerintah pusat sedang mempertimbangkan situasi di lapangan, terutama dengan status NTB sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Menurutnya, meskipun NTB memiliki cadangan beras pemerintah (CBP) yang mencukupi, keputusan akhir tetap berada di tangan pusat.

“Timing dan kebijakan penguatan stok menjadi kunci. Apakah impor ini diperlukan atau tidak, itu tergantung pada kondisi nasional,” tambahnya.

Musim Tanam dan Puncak Panen Menjadi Pertimbangan

Dengan musim tanam keempat yang sedang berlangsung di NTB dan puncak panen raya yang diprediksi terjadi pada Maret-April 2025, Musasdin menyebutkan bahwa segala kemungkinan tetap terbuka. Jika impor terjadi, Bulog NTB hanya akan berfungsi sebagai transit sebelum mendistribusikan beras ke wilayah lain di Indonesia.

“NTB hanya menjadi pusat transit. Beras impor ini kemungkinan besar tidak akan dipasarkan secara langsung di sini,” tegasnya.

Namun, untuk periode Januari-Februari 2025, saat NTB belum memasuki puncak panen, beras impor ini dapat digunakan sebagai bagian dari program bantuan pangan pemerintah kepada masyarakat miskin. Hal ini penting untuk menjamin kestabilan stok beras lokal sebelum panen raya dimulai.

Stabilitas Harga Jadi Prioritas

Manager Pengadaan Perum Bulog NTB, Dian Istiqomah, turut memberikan jaminan bahwa masuknya beras impor tidak akan merusak harga beras lokal di pasar tradisional.

“Tujuan utama impor ini adalah stabilitas harga. Jika sampai masuk ke pasar, itu hanya untuk menstabilkan harga agar tetap terjangkau bagi masyarakat,” jelasnya.

NTB Tetap Menjadi Pilar Ketahanan Pangan Nasional

Sebagai daerah yang dikenal dengan julukan Bumi Gora, NTB terus memainkan peran penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Dengan cadangan beras yang memadai dan kemampuan produksi yang tinggi, Musasdin optimis NTB dapat terus menjadi tulang punggung pangan Indonesia.

“Kami percaya, dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah dan pusat, NTB mampu menjaga posisinya sebagai lumbung pangan yang andal,” pungkasnya.

Rencana impor 15 ribu ton beras ini menjadi bagian dari langkah pemerintah untuk menjamin kestabilan stok dan harga beras nasional menjelang pergantian tahun. Terlepas dari berbagai pro dan kontra, keputusan akhir mengenai rencana ini masih menunggu lampu hijau dari pemerintah pusat. Sampai kapan? Semua pihak kini menanti jawabannya.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *