banner 728x250
Berita  

89 Ribu Ton Gabah Diserap Bulog NTB,Langkah Agresif Memenuhi Kebutuhan Beras Masyarakat

banner 120x600
banner 468x60

Bulog NTB mencatatkan rekor baru dalam sejarah penyerapannya. Hingga awal November 2024, sebanyak 89.300 ton gabah petani lokal telah berhasil diserap. Angka fantastis ini mencerminkan komitmen Bulog untuk menjaga stabilitas pasokan beras di Nusa Tenggara Barat (NTB) sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

Menurut Wakil Pimpinan Wilayah Bulog NTB, Musazdin Said, pencapaian ini menjadi bukti nyata perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan petani lokal dan kebutuhan masyarakat akan bahan pokok. “Kami terus berupaya menyerap hasil panen petani sebanyak-banyaknya. Langkah ini bukan hanya untuk stabilitas stok, tetapi juga sebagai bentuk dukungan terhadap produktivitas petani lokal,” tegasnya.

banner 325x300

Detail Serapan yang Fantastis

Dari total 89.300 ton gabah yang diserap, sebanyak 81.000 ton dialokasikan untuk kebutuhan stok cadangan pangan pemerintah (CPP), sementara sisanya disiapkan untuk pasar komersial. Jika disetarakan ke dalam bentuk beras, total serapan gabah tersebut setara dengan 65.300 ton beras selama tahun 2024.

Untuk beras lokal, Bulog NTB telah menyerap 8.600 ton, dengan rincian 4.500 ton untuk cadangan CPP dan selebihnya untuk kebutuhan komersial.

“Dari periode Oktober hingga awal November saja, kami telah menyerap lebih dari 3.000 ton gabah kering giling, terutama dari Cabang Sumbawa dan Bima. Ini menunjukkan bahwa potensi daerah terus kami maksimalkan,” ungkap Musazdin.

Dua Skema Penyerapan: PSO dan Komersial

Bulog NTB menerapkan dua skema pembelian dalam menyerap hasil panen petani:

  1. Public Service Obligation (PSO): Skema ini mengacu pada Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan Badan Pangan Nasional, yaitu Rp 11.000 per kilogram untuk beras dan Rp 7.400 per kilogram untuk gabah kering giling.
  2. Komersial: Skema ini memberikan fleksibilitas harga sesuai pasar untuk memastikan distribusi beras tetap berjalan optimal.

Penguatan Stok Strategis

Saat ini, Bulog NTB memiliki 33.000 ton cadangan beras yang tersebar di gudang-gudang di Pulau Lombok dan Sumbawa. Stok ini menjadi tameng utama dalam menjaga stabilitas harga di tengah fluktuasi pasokan dan permintaan pasar.

“Kami tidak hanya memprioritaskan kuantitas, tetapi juga kualitas. Dengan langkah ini, NTB bisa lebih siap menghadapi tantangan pangan, baik di tingkat regional maupun nasional,” tambah Musazdin.

Komitmen terhadap Petani Lokal

Langkah agresif Bulog NTB dalam menyerap hasil panen lokal menjadi angin segar bagi petani yang selama ini kerap menghadapi tekanan harga di musim panen. Dengan adanya skema PSO, petani mendapatkan jaminan harga yang layak, sehingga roda ekonomi lokal terus bergerak positif.

Harga pembelian yang stabil dan prioritas terhadap hasil panen lokal juga menjadi strategi jangka panjang untuk mendorong NTB sebagai salah satu sentra pangan unggulan di Indonesia.

Langkah Berkelanjutan untuk Masa Depan

Di tengah tantangan perubahan iklim dan fluktuasi pasar global, Bulog NTB memastikan bahwa ketahanan pangan tetap menjadi prioritas. Dengan pendekatan yang agresif dan kolaborasi dengan berbagai pihak, wilayah NTB diyakini akan mampu menghadapi tantangan pangan di masa depan dengan lebih optimis.

“Ketahanan pangan adalah tanggung jawab kita bersama. Dengan menjaga stabilitas pasokan, kita tidak hanya melindungi masyarakat, tetapi juga memastikan kesejahteraan petani lokal terus meningkat,” pungkas Musazdin.

Dengan langkah ini, NTB tidak hanya berkontribusi bagi kebutuhan pangan lokal tetapi juga memperkuat posisi Indonesia di peta ketahanan pangan dunia.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *