Drama baru dari dunia birokrasi NTB kembali mencuri perhatian publik. Kali ini, giliran seorang oknum pejabat yang diduga terlibat dalam aksi “uang pelicin” berujung operasi tangkap tangan (OTT). Tersangka, yang dikenal sebagai AM, Kabid SMK di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB, ditetapkan sebagai tersangka usai kedapatan memegang uang Rp 50 juta. Ini bukan sekadar gosip kantor—ini fakta yang bikin kita geleng-geleng kepala.
Cerita dimulai saat AM menerima uang dari supplier bahan bangunan untuk proyek di SMKN 3 Mataram. Uang itu disebut sebagai “biaya administrasi,” tapi yang terjadi malah mirip praktik “memaksa demi cuan”. Kalau nggak bayar, urusan pencairan dana proyek bakal sengaja dilambatkan. Ya, modus klasik.
Satreskrim Polresta Mataram nggak tinggal diam. Dalam OTT yang berlangsung di ruang kerja AM, polisi menemukan uang Rp 50 juta dalam amplop cokelat. Nggak cuma itu, dua unit iPhone dan barang bukti lainnya ikut diamankan. AM sendiri nggak sendirian waktu itu—ada sejumlah staf yang sekarang jadi saksi.
Kasatreskrim Polresta Mataram, AKP Regi Halili, memastikan bahwa kasus ini masih dalam pengembangan. “Kami mendalami aliran dana dan siapa saja yang terlibat,” katanya. Namun, Regi ogah menyebutkan nilai total proyek yang didanai dari Dana Alokasi Khusus (DAK) 2024. Yang jelas, angka 5-10 persen “biaya administrasi” dari proyek ini jadi bahan pembicaraan panas.
Pejabat lain pun angkat bicara. Penjabat Gubernur NTB, Hassanudin, memastikan AM bakal dicopot dari jabatannya. “Kita nggak main-main soal ini. Hukum harus ditegakkan,” tegasnya. Sementara itu, Kepala Dikbud NTB, Aidy Furqon, terang-terangan merasa malu. “Ini tamparan keras buat kami. Pengawasan memang belum maksimal,” akunya.
Drama ini juga jadi bahan introspeksi bagi ASN di NTB. Plt Kepala BKD NTB, Yusron Hadi, mengingatkan agar birokrasi tetap profesional dan bersih. “Jangan coba-coba bermain-main dengan jabatan. Ini peringatan buat semua,” katanya.
Netizen pun tak kalah heboh. Di media sosial, kasus ini jadi trending topic. Banyak yang menyayangkan praktik seperti ini masih terjadi, apalagi di instansi pendidikan. “Pejabat pendidikan kok malah ngajarin korupsi? Miris banget,” tulis salah satu netizen.
Buat kamu yang penasaran, penyelidikan bakal terus berlanjut. Pertanyaan terbesar: Apakah ini cuma “ikan kecil” atau ada “hiu besar” yang terlibat? Kita tunggu babak selanjutnya dari sinetron nyata ala birokrasi NTB ini. Stay tuned!


















