Lubang misterius yang tiba-tiba muncul di Dusun Persil, Desa Karang Sidemen, Lombok Tengah, kini bak “pintu neraka” yang menganga di tengah desa. Dengan kedalaman lebih dari 10 meter, lubang ini bukan hanya menghebohkan warga tetapi juga membuat BPBD Lombok Tengah angkat tangan, sementara dinas lain justru sibuk saling tunjuk.
Kepala BPBD Lombok Tengah, H Ridwan Ma’ruf, mengakui pihaknya sudah turun langsung ke lokasi lubang misterius tersebut. Tapi, alih-alih memberikan solusi, BPBD justru melempar bola panas ke Dinas PUPR dan PDAM, dengan dalih lubang itu bukan bagian dari ranah tugas BPBD.
“Lubang ini mungkin sumber mata air bawah tanah, jadi harus dikaji lebih dalam. Kalau BPBD kan tugasnya menangani rumah rusak, bukan tanah yang tiba-tiba amblas seperti ini,” ujarnya, Selasa (17/12), sambil melemparkan tanggung jawab seperti seorang pemain voli yang lihai.
Viral di Medsos, Pemerintah Bingung Mau Ngapain
Kemunculan lubang besar yang berada di pinggir jalan ini langsung jadi bahan perbincangan hangat di media sosial. Warga setempat pun berdatangan, penasaran ingin melihat fenomena langka itu. Ada yang menduga lubang tersebut akibat tanah amblas pasca hujan deras, tapi tak sedikit pula yang melontarkan teori-teori liar, mulai dari “pintu masuk kerajaan jin” hingga portal menuju dunia lain.
“Ngeri sekali lihatnya, seperti lubang neraka. Sudah dalam, letaknya juga di pinggir jalan. Kalau tidak segera ditangani, bisa bahaya untuk warga dan pengendara,” ujar salah seorang warga yang ditemui di lokasi sambil sibuk merekam video untuk diunggah ke TikTok.
Sayangnya, ketakutan warga belum sebanding dengan kecepatan penanganan pemerintah. Meski BPBD sudah memberikan laporan dan berkoordinasi dengan Dinas Pertambangan Provinsi NTB, eksekusi di lapangan justru mandek. BPBD menyatakan tangan mereka “terikat” aturan anggaran.
“Kalau ini tanah amblas, ya seharusnya PUPR atau PDAM yang turun tangan. BPBD tidak bisa begitu saja menimbun lubang itu. Anggaran kami hanya bisa digunakan untuk rumah warga yang rusak akibat bencana,” tegas Ridwan dengan nada pasrah.
Lubang Besar, Ego Pemerintah Lebih Besar?
Sementara itu, instansi terkait yang disebut-sebut seperti Dinas PUPR dan PDAM tampak tak buru-buru menanggapi persoalan ini. Sikap saling lempar tanggung jawab justru semakin memperkeruh suasana, seolah-olah lubang misterius itu hanyalah masalah kecil yang tak perlu diseriusi.
Padahal, jika lubang ini dibiarkan menganga terlalu lama, dampaknya bisa fatal. Selain membahayakan keselamatan warga, ada potensi besar lubang ini memengaruhi sistem mata air bawah tanah yang selama ini menjadi andalan masyarakat.
“Kalau benar itu sumber mata air, maka PDAM harus cepat turun memeriksa. Jangan sampai nanti malah jadi masalah baru,” ujar Ridwan menambahkan, seakan menegaskan bahwa koordinasi antar-instansi pemerintah masih sebatas “rapat doang” tanpa aksi nyata.
Fenomena Alam atau Alarm Bahaya?
Pengamat lingkungan yang dihubungi menyebut fenomena tanah amblas seperti ini sering kali dipicu oleh faktor geologis, seperti rongga bawah tanah atau pengikisan akibat derasnya air hujan. Namun, apa pun penyebabnya, langkah cepat dari pemerintah seharusnya menjadi prioritas.
“Jangan menunggu sampai ada korban baru bertindak. Fenomena seperti ini memerlukan kajian ilmiah yang mendalam, tapi juga penanganan darurat agar tidak berbahaya,” ujar seorang ahli geologi dari Mataram.
Warga Bertanya, Pemerintah Berkilah
Lubang misterius ini kini telah menjadi simbol dari lambatnya respon pemerintah dalam menyikapi bencana tak terduga. Warga hanya bisa bertanya-tanya: siapa yang akhirnya akan “menambal” lubang ini? Apakah nasib lubang tersebut akan sama seperti banyak masalah lain yang hanya menjadi headline viral sesaat, lalu menguap begitu saja?
“Pemerintah jangan sampai kalah cepat sama netizen. Viral sudah, sekarang kami butuh solusi,” cetus warga lainnya yang kesal melihat sikap saling lempar tanggung jawab dari berbagai dinas.
Hingga berita ini diturunkan, lubang misterius itu masih tetap menganga lebar di Desa Karang Sidemen, seakan menanti siapa yang akan jadi pahlawan pertama. Sementara itu, para pengendara yang melintas hanya bisa berhati-hati, takut lubang “neraka” ini tiba-tiba memutus jalan hidup mereka.
Catatan Akhir: Jika fenomena ini terus dibiarkan, jangan salahkan jika netizen kelak menyebutnya sebagai “Lubang Anggaran” – karena anggaran selalu ada, tapi tanggung jawab yang tak pernah terlihat.


















