banner 728x250
Berita  

Ampenan Dihantam Amukan Gelombang Pasang,Rumah Hancur, Warga Panik, dan Tanggul Darurat!

banner 120x600
banner 468x60

Keheningan dini hari di pesisir Ampenan mendadak berubah menjadi mimpi buruk pada Kamis (19/12). Gelombang pasang setinggi lima meter menghantam kawasan pesisir Lingkungan Pondok Perasi dan Kampung Bugis, Kelurahan Bintaro Jaya, dengan kekuatan yang menghancurkan. Empat rumah porak-poranda, puluhan lainnya rusak berat, dan warga berhamburan dalam kepanikan.

“Ini yang terparah sepanjang sepekan terakhir. Rumah saya hancur, tembok runtuh diterjang ombak,” tutur Muhammad Ridwan, salah satu warga terdampak, dengan mata yang masih menyisakan rasa takut. Ridwan mengungkapkan, air laut bahkan sudah mulai masuk halaman rumah warga sejak seminggu lalu, tetapi Kamis dini hari adalah puncak bencana.

banner 325x300

Warga Berjuang Menyelamatkan Diri
Pagi itu, suasana di Lingkungan Pondok Perasi terasa mencekam. Warga terlihat sibuk mengemas barang-barang berharga untuk diselamatkan ke tempat yang lebih aman. Bayi, ibu hamil, dan lansia diprioritaskan untuk dievakuasi. Sementara itu, nelayan memilih bertahan menjaga perahu-perahu mereka yang terparkir di tepi pantai.

“Perahu adalah mata pencaharian kami. Mau bagaimana lagi, kami harus berjaga meski takut,” kata Ridwan dengan nada putus asa.

Jalanan Terkelupas, Warga Makin Waspada
Gelombang pasang tidak hanya menghancurkan rumah, tetapi juga merusak infrastruktur. Jalan beraspal di sepanjang pesisir terkelupas, meninggalkan bekas kehancuran. Ketika air laut mulai surut sekitar pukul 08.00 WITA, warga tetap waspada, khawatir ombak susulan akan datang kapan saja.

“Kami punya perhitungan sendiri soal pasang-surut. Kalau bulan purnama begini, gelombangnya lebih ganas,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Respons Lambat, Pemerintah Dikritik
Ridwan dan warga lainnya mengaku sudah sering melaporkan ancaman gelombang pasang ini ke Pemerintah Kota Mataram. Namun, respons dianggap lambat. “Setiap tahun kami dihantui gelombang pasang, tapi pemerintah seperti tidak peduli,” keluh Ridwan.

BPBD Kota Mataram mencatat, sekitar 50 rumah terdampak gelombang pasang kali ini. “Saat ini, fokus kami adalah menyelamatkan nyawa warga. Tanggul sementara dari karung pasir sudah kami siapkan sebanyak 450 karung,” ungkap Plt Kepala BPBD Kota Mataram, Irwan Rahadi.

Pemkot Mataram Janjikan Bantuan
Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, memastikan bantuan logistik dan kebutuhan pokok segera didistribusikan. “Kami sudah siapkan tanggul darurat dan bantuan pangan untuk warga terdampak,” ujarnya.

Dinas Sosial Kota Mataram juga telah mengirimkan tim asesmen untuk mendata kerugian dan kebutuhan warga. Kepala Dinas Sosial, Lalu Samsul Adnan, menyatakan bahwa bantuan makanan menjadi prioritas, sementara pembangunan tanggul darurat dikoordinasikan dengan BPBD.

Krisis Abrasi Pesisir: Bencana yang Terus Berulang
Gelombang pasang kali ini kembali menyoroti masalah abrasi yang mengancam pesisir Ampenan. Dalam kurun waktu satu tahun, wilayah pesisir di Kota Mataram sudah tiga kali dihantam gelombang tinggi. Selain Lingkungan Pondok Perasi, wilayah Mapak di Kecamatan Sekarbela juga mengalami dampak yang cukup parah.

“Abrasi ini bukan hanya bencana alam, tetapi juga cerminan kurangnya perhatian serius terhadap mitigasi di pesisir,” kata seorang pengamat lingkungan yang tak mau disebutkan namanya.

Warga Mendesak Solusi Jangka Panjang
Kemarahan warga mulai membuncah. Mereka menuntut solusi jangka panjang dari pemerintah. “Kami butuh tanggul permanen, bukan karung pasir yang cuma bertahan beberapa hari,” desak Ridwan.

Di tengah ancaman gelombang pasang yang belum usai, warga pesisir Ampenan tetap bertahan dengan segala keterbatasan. Mereka hanya berharap bahwa peristiwa ini menjadi peringatan terakhir sebelum pemerintah benar-benar mengambil tindakan nyata.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *