Hujan deras disertai angin kencang kembali mengguncang Kabupaten Bima, membuat sejumlah wilayah seperti Donggo dan Soromandi berubah menjadi medan bencana. Tidak hanya air, banjir kali ini membawa kerikil dan lumpur dari gunung yang menutupi jalanan. Desa O’o di Kecamatan Donggo, misalnya, mendadak jadi sungai berbatu, membuat kendaraan apapun mustahil melintas. Sementara itu, di Soromandi, banjir merendam rumah warga hingga tak bersisa.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bima, Isyrah, menggambarkan situasi ini sebagai salah satu yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir. “Di Desa Sari, Kecamatan Sape, jalanan berubah jadi sungai lumpur setinggi 30 cm. Sebuah mobil Toyota putih bahkan terjebak dan tidak bisa bergerak sama sekali,” ungkapnya.
Di Desa Parangina, luapan air menghancurkan sawah warga. Satu hektare padi tertimbun lumpur dan hancur total. Dampaknya, kerugian yang diderita petani tidak terhitung. “Kami hanya bisa pasrah. Ini seperti kiamat kecil bagi kami,” ujar seorang petani setempat dengan mata berkaca-kaca.
Banjir juga melanda Desa Ncandi, Kecamatan Madapangga, di mana 55 rumah warga tenggelam oleh air setinggi lutut. Warga yang terdampak langsung bergerak membersihkan lumpur setelah air surut, meski jelas beban ini terasa berat.
Lebih parahnya lagi, sebuah pohon raksasa tumbang di Desa Monggo, menghentikan lalu lintas Sumbawa-Bima. Sebuah mobil boks rusak parah akibat tertimpa pohon, tetapi kernetnya berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat.
Apa penyebab bencana ini? Jawabannya mengarah pada hutan-hutan yang gundul. Area yang dulu ditumbuhi pohon-pohon besar kini berubah menjadi lahan jagung. Hutan yang seharusnya menjadi penahan air justru menjadi jalan bebas bagi banjir membawa kehancuran.
“Kabupaten Bima sedang menjerit!”
Bencana ini seharusnya menjadi peringatan keras bagi semua pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat. Jika deforestasi tidak dihentikan, banjir seperti ini bisa menjadi rutinitas yang menenggelamkan harapan seluruh warga.
Saat ini, Kabupaten Bima tidak hanya butuh bantuan berupa makanan dan pakaian. Kabupaten ini butuh solusi jangka panjang: penghijauan, pengendalian penggunaan lahan, dan penegakan hukum untuk mencegah penggundulan hutan. Tanpa langkah konkret, hujan berikutnya mungkin akan membawa lebih dari sekadar lumpur—mungkin kehancuran total.
“Kita tidak bisa terus berharap pada doa sambil membiarkan gunung kita gundul. Tindakan nyata adalah jawabannya,” tegas salah satu aktivis lingkungan setempat.
Apakah ini akhir dari harapan warga Bima? Atau justru awal untuk bangkit? Semua kembali pada keputusan yang diambil hari ini. Hutan yang hilang adalah bencana yang abadi. Jangan sampai kita hanya bisa menyalahkan cuaca ketika semuanya sudah terlambat.


















