banner 728x250
Berita  

Bima Dihantam Badai, Ratusan Rumah Jadi Kolam Renang Dadakan, Warga Berjuang Bersihkan Lumpur!

banner 120x600
banner 468x60

Langit kelam akhir pekan lalu seperti membawa isyarat buruk. Hujan deras yang dibarengi angin kencang menumpahkan air bah ke sembilan desa di Kabupaten Bima, meninggalkan jejak kehancuran yang bikin geleng-geleng kepala. Dua rumah hanyut terbawa banjir, ratusan lainnya terendam, dan warga berjuang melawan lumpur.

Isyrah, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bima, menggambarkan situasi ini sebagai mimpi buruk bagi warga. Di Desa Nggembe, Kecamatan Bolo, misalnya, banjir setinggi lutut orang dewasa menyapu 177 rumah di Dusun Jala dan Wa’i Tawo. Tak hanya rumah, sawah dan tambak yang menjadi sumber penghidupan warga juga ikut terendam.

banner 325x300

“Total terdampak mencapai 204 kepala keluarga. Infrastruktur umum seperti SDN Jala juga porak poranda. Enam ruang kelas, ruang guru, perpustakaan, dan musala semuanya terendam banjir setinggi 80 sentimeter,” ujar Isyrah.

Desa Kananga: Rumah Hanyut dan Lumpur Menggunung
Di Desa Kananga, luapan sungai membawa air hingga setinggi dada orang dewasa, membuat 15 rumah terendam, bahkan dua di antaranya hanyut seperti mainan. Warga terpaksa mengungsi ke rumah keluarga sambil berusaha mengeringkan perabotan yang tersisa.

“Kami sekarang fokus membersihkan lumpur. Selimut, kasur, semuanya basah dan hancur,” kata seorang warga Kananga sambil membersihkan lantai rumahnya yang berlapis lumpur tebal.

Ladang Jadi Sungai, Tembok Sekolah Tumbang
Sementara itu, di Desa Tumpu, Kecamatan Bolo, banjir merobohkan 30 meter pagar SDN Sila. Air bah juga menggenangi 20 rumah, membuat warga hanya bisa pasrah menatap sawah mereka berubah menjadi sungai dadakan.

Desa Rada, yang terkenal sebagai salah satu desa produktif, kini harus menghadapi kenyataan pahit. Sebanyak 320 rumah terendam banjir. Warga berjibaku membersihkan lumpur yang menempel di dinding dan lantai.

“Kami masih beruntung, banjir cepat surut. Tapi lumpur ini seperti tidak ada habisnya,” ungkap warga Dusun Nggeru, Desa Rada.

Donggo dan Sanggar Tak Luput dari Amukan Alam
Di Desa O’o, Kecamatan Donggo, banjir juga setinggi lutut orang dewasa melanda 35 rumah. Sementara di Kecamatan Sanggar, Desa Kore dan Desa Oi Saro ikut terendam air. Desa Boro bahkan lebih parah, dengan 55 rumah terdampak.

“Semuanya basah. Kami tidak tahu kapan bisa kembali hidup normal,” ujar seorang warga Sanggar yang mulai kehabisan semangat.

Pohon Tumbang dan Tiang Telkomsel Roboh
Bencana ini tak hanya menggenangi rumah dan sawah. Di Desa Dadibou, Kecamatan Woha, sebuah tiang Telkomsel tumbang, memutus jaringan komunikasi. Pohon-pohon besar yang tumbang di jalan lintas Sumbawa-Bima membuat akses kendaraan terhambat.

Bantuan yang Datang Terlambat
Meski BPBD telah mengirimkan bantuan makanan ke beberapa desa seperti Nggembe dan Kananga, banyak warga merasa bantuan datang terlalu lambat. “Kami butuh lebih banyak tenaga dan alat berat untuk membersihkan lumpur. Kalau hanya diberi makanan, itu tidak cukup,” keluh seorang warga.

Tenda posko darurat juga didirikan, terutama untuk korban diare yang muncul akibat air kotor. Namun, dengan segala kerusakan yang ada, upaya ini hanya seperti menambal luka kecil di tengah badai.

Ketangguhan Warga Bima
Banjir mungkin telah surut, tetapi perjuangan warga Kabupaten Bima baru saja dimulai. Mereka harus kembali membangun, membersihkan, dan memulihkan hidup mereka. Dalam suasana penuh keprihatinan, semangat gotong royong tetap menjadi penguat.

Namun, satu pertanyaan besar masih menggantung: bagaimana langkah preventif agar banjir seperti ini tak lagi menjadi tamu rutin di Bima?

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *