24 Desember 2024, NTB tengah menggeliat bak pasar malam di malam perayaan. Menjelang Natal 2024 dan Tahun Baru 2025, okupansi kamar hotel di NTB sudah menyentuh angka mencengangkan: 85 persen! Angka ini tak hanya mencerminkan antusiasme para pelancong, tetapi juga jadi sinyal bahwa pariwisata NTB kembali menunjukkan taringnya.
“City hotel di Mataram dan Senggigi sudah mulai padat. Bahkan di tiga Gili, wisatawan domestik dan asing tumpah ruah,” ujar I Gusti Lanang Patra, Pembina dan Penasehat Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB.
Meski hotel-hotel terisi hingga nyaris penuh, harga kamar masih tetap ramah di kantong. PHRI memastikan tidak ada lonjakan tarif yang biasa terjadi di destinasi wisata lain saat momen seperti ini. “Harganya normal. Tidak ada kenaikan jelang Nataru ini,” tegas Lanang.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, per Oktober 2024, jumlah tamu yang menginap di hotel berbintang mencapai 102.781 orang. Sementara itu, tamu non-bintang tercatat 78.510 orang. Secara kumulatif sepanjang tahun, 1.770.594 wisatawan telah menginap di hotel seluruh NTB, dengan rincian 612.228 tamu mancanegara dan 1.158.366 tamu nusantara.
Namun, angka ini diprediksi akan melonjak lebih tinggi lagi. Kepala Dinas Pariwisata NTB, Jamaluddin Malady, optimis bahwa okupansi akan mencapai 90 persen sebelum pergantian tahun. “Angka 85 persen ini sudah bagus, tetapi saya yakin dengan tren ini, okupansi bisa menyentuh 90 persen. Dampaknya tak hanya pada hotel, tetapi juga transportasi, UMKM, hingga kuliner lokal,” ujarnya penuh semangat.
Salah satu penyebab utama ramainya tamu mancanegara adalah wisatawan asal Malaysia. Berkat penerbangan langsung setiap hari dari Malaysia ke Lombok, para tetangga dari seberang ini menjadikan NTB sebagai destinasi favorit mereka untuk liburan Nataru.
“Wisatawan Malaysia memang dominan, apalagi mereka suka dengan keramahan Lombok dan kuliner lokal kita. Penerbangan langsung ini sangat membantu,” tambah Jamal.
Di tengah antusiasme wisatawan, kota Mataram dan kawasan wisata seperti Senggigi serta tiga Gili mulai berubah wajah. Lampu-lampu dekorasi mulai menghiasi jalan-jalan utama, UMKM lokal berlomba menawarkan produk unik mereka, dan restoran-restoran bersiap menyajikan menu spesial untuk menyambut tamu.
Namun, di balik kemeriahan ini, tantangan juga menghadang. Kemacetan di titik-titik strategis dan minimnya ketersediaan kamar bagi wisatawan yang memesan mendadak menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diatasi.
“Ini momentum emas bagi NTB. Jika kita mampu memanfaatkannya dengan baik, ini bisa jadi awal kebangkitan pariwisata setelah pandemi,” pungkas Jamal dengan optimisme.
Kota-kota di NTB kini tengah bersiap. Para wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri, telah membanjiri bandara, pelabuhan, dan terminal. Sebuah perayaan akbar di akhir tahun yang tak hanya menyuntikkan semangat baru, tetapi juga membawa berkah ekonomi bagi warga lokal.
Selamat datang di NTB, tempat di mana akhir tahun menjadi awal dari cerita baru yang penuh kebahagiaan dan keberkahan!


















