banner 728x250
Berita  

RSUD Praya, Rumah Sakit Tipe B, Tapi Masih Tipe-C dalam Layanan?

banner 120x600
banner 468x60

RSUD Praya, ikon kesehatan Lombok Tengah, kini menghadapi tekanan besar dari masyarakat. Keluhan tentang kualitas pelayanan hingga kekurangan sumber daya manusia (SDM) telah menjadi pembicaraan sehari-hari warga. Rumah sakit yang baru saja naik kelas dari tipe C menjadi tipe B ini tampaknya belum siap menyandang status barunya. Pertanyaannya: apa yang salah?

Menurut Kepala Bapperida Lombok Tengah, Lalu Wiranata, solusi utama terletak pada perluasan lahan dan peningkatan insentif bagi tenaga kesehatan (nakes). “Ini memang sudah diperlukan karena sekarang menjadi rujukan utama rumah sakit tipe C di wilayah kita,” katanya. Dengan status tipe B, RSUD Praya otomatis menjadi garda depan bagi pasien dengan kasus-kasus kompleks yang sebelumnya hanya ditangani di rumah sakit besar.

banner 325x300

Namun, realitanya jauh dari ideal. Parkir yang sempit, gedung yang penuh sesak, dan layanan yang kurang optimal membuat masyarakat bertanya-tanya: apakah rumah sakit ini benar-benar siap menjadi tipe B?

Perluasan Lahan, tapi Kapan?

Perluasan lahan tampaknya menjadi jawaban mutlak, namun sayangnya, itu masih jauh dari kenyataan. Anggaran untuk 2025 hanya fokus pada pembangunan gedung lantai tiga, sementara perluasan lahan mungkin baru masuk dalam APBD 2026. “Kalau berani berutang seperti RSUP NTB ke PT SMI, mungkin bisa dipercepat,” ujar Wiranata.

Ini bukan tanpa alasan. RSUD Praya sudah berstatus BLUD (Badan Layanan Umum Daerah), yang memungkinkan mereka mengelola anggaran secara lebih fleksibel, termasuk mengambil pinjaman untuk pembiayaan mandiri. Namun, langkah ini masih memerlukan keputusan berani dari manajemen dan pemerintah daerah.

SDM Nakes: Senyum Mahal Karena Gaji Murah

Di sisi lain, keluhan tentang pelayanan SDM juga menjadi sorotan. Kurangnya kesejahteraan tenaga kesehatan diduga menjadi akar masalahnya. “Belajar dari RSUD Kota Mataram dan RSUD Provinsi NTB, kuncinya adalah gaji besar. Ketika gaji nakes besar, mereka akan melayani dengan senyum,” ujar Wiranata.

Tak hanya itu, manajemen RSUD Praya bahkan harus belajar dari bank untuk meningkatkan layanan front office. Pelatihan dari customer service perbankan mulai diterapkan untuk memberikan pengalaman pasien yang lebih baik.

Mimpi Besar, Realita Berliku

Kepala RSUD Praya, dr. Mamang, disebut-sebut mulai melakukan pembenahan, termasuk menaikkan insentif nakes secara bertahap. Namun, langkah ini masih seperti setetes air di padang pasir. Harapan masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan terbaik tampaknya masih harus menunggu.

Dengan segala tantangan ini, RSUD Praya menghadapi dilema besar: akankah mereka mampu memenuhi ekspektasi masyarakat sebagai rumah sakit tipe B, atau justru terjebak dalam masalah internal yang tak kunjung selesai?

Satu hal yang pasti, masyarakat Lombok Tengah membutuhkan lebih dari sekadar janji. Mereka ingin aksi nyata yang mampu mengubah keluhan menjadi pujian. Apakah RSUD Praya mampu menjawab tantangan ini? Waktu yang akan menentukan.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *