Proyek pembangunan fasilitas mitigasi bencana di Gili Air, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU), menghadapi tantangan besar dan gagal mencapai target penyelesaian pada akhir 2024. Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata KLU, Alfian Zubair, mengungkapkan bahwa hingga 31 Desember 2024, progres pengerjaan baru mencapai 94,6 persen.
“Kondisi cuaca ekstrem, termasuk ombak besar, menjadi penghambat utama pengiriman material ke lokasi,” jelas Alfian pada Kamis (9/1).
Untuk menuntaskan proyek yang dibiayai oleh Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp 7 miliar lebih itu, pemerintah telah memberikan perpanjangan waktu kepada kontraktor mulai 1 Januari 2025. Namun, konsekuensi dari perpanjangan tersebut adalah penerapan sanksi denda bagi kontraktor yang dihitung berdasarkan jumlah hari keterlambatan.
Dikebut Tapi Tetap Diawasi Ketat
Alfian menambahkan bahwa rekanan, CV Zerayazaya, kini tengah berupaya mempercepat proses pengerjaan untuk meminimalkan jumlah denda. “Setiap hari pengerjaan molor, dendanya akan bertambah. Ini mendorong mereka untuk lebih cepat, meskipun pengawasan terhadap kualitas pekerjaan tetap kami lakukan secara ketat,” ujar Alfian.
Saat ini, progres pengerjaan telah mencapai 97 persen dan fokusnya adalah tahap finishing. Optimisme tetap ada bahwa proyek ini dapat diselesaikan pada pertengahan Januari 2025.
Tantangan Pembayaran dan Harapan Baru
Namun, meskipun pengerjaan selesai sesuai jadwal baru, pembayaran kepada kontraktor tidak dapat dilakukan secara langsung. Alfian menjelaskan, “Sesuai aturan, pembayaran sisa pekerjaan yang melewati tahun anggaran akan dimasukkan ke APBD Perubahan 2025.”
Proyek ini mencakup pembangunan tanggul dan pengaman pantai sepanjang 145 meter, perbaikan jalan yang rusak akibat abrasi, serta instalasi alat mitigasi bencana seperti sirene tsunami, rambu evakuasi, dan papan informasi.
Sorotan untuk Masa Depan
Dengan dana penawaran senilai Rp 6,7 miliar, proyek ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana di Gili Air. Warga dan wisatawan berharap fasilitas ini segera dapat digunakan demi keamanan bersama.
Meskipun sempat molor, semangat penyelesaian dan transparansi dalam proses pengerjaan menjadi catatan positif. Warga Gili Air optimistis bahwa fasilitas mitigasi ini akan membawa dampak signifikan bagi kehidupan mereka di tengah ancaman bencana alam yang kian tak terduga.
“Kami tunggu rampungnya. Semoga manfaatnya terasa nyata,” ujar salah satu warga Gili Air yang antusias dengan proyek ini.


















