Harga cabai di Lombok Timur (Lotim) sedang menjadi perhatian. Beberapa hari terakhir, harga cabai terus melonjak hingga Rp 100 ribu per kilogram. Penyebab utamanya adalah cuaca ekstrem yang membuat banyak tanaman cabai rusak dan layu akibat tergenang air hujan. Ketua Champion Cabai Lotim, H. Subhan, mengungkapkan bahwa kondisi ini memengaruhi kualitas dan produksi cabai secara signifikan.
“Karena faktor cuaca, harga cabai tidak bisa dipermainkan,” kata H. Subhan, Minggu (12/1). Menurutnya, cabai adalah tanaman yang sensitif terhadap hujan, sehingga banjir atau genangan air dapat dengan mudah merusak hasil panen.
Efek Domino pada Harga Cabai
Tingginya harga cabai tidak hanya disebabkan oleh kerusakan tanaman, tetapi juga panjangnya rantai distribusi dari petani ke konsumen. “Kalau di tingkat petani, harganya jauh lebih murah. Tapi sampai ke konsumen, banyak biaya yang menumpuk,” tambah Subhan.
Untuk mengatasi lonjakan harga ini, Champion Cabai bekerja sama dengan Dirjen Hortikultura, Pemkab Lotim, dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) menggelar bazar murah di sejumlah titik. Di bazar ini, cabai dijual dengan harga Rp 60 ribu hingga Rp 65 ribu per kilogram, yang cukup membantu masyarakat tanpa merugikan petani.
Pengiriman Cabai Dihentikan, Fokus untuk Lokal
Lombok Timur dikenal sebagai salah satu daerah penyangga cabai nasional, tetapi dengan kondisi saat ini, pengiriman cabai ke luar daerah telah dihentikan. “Kenaikan harga ini tidak hanya di Lombok, tetapi juga di daerah lain. Di Jakarta saja harganya mencapai Rp 120 ribu per kilogram,” ungkap Subhan.
Kenaikan harga cabai diperkirakan akan berlangsung hingga mendekati Idul Fitri. Namun, Subhan memastikan stok cabai di Lombok Timur tetap aman dan harga dapat dikendalikan dengan langkah-langkah strategis.
Operasi Pasar dan Solusi Cepat
Dinas Perdagangan Lotim juga melakukan operasi pasar murah untuk menekan harga cabai. Kabid Bahan Pokok dan Penting (Bapokting), Saiful Wathan, menjelaskan bahwa operasi pasar telah berlangsung sejak 8 Januari. “Mulai besok Senin (13/1), operasi pasar akan kami gabungkan dengan komoditas beras agar semakin membantu masyarakat,” ujar Saiful.
Langkah lain yang diusulkan adalah mengganti tanaman cabai yang rusak dengan tanaman baru yang cepat berbuah. Ini diharapkan bisa menjadi solusi jangka pendek untuk mengamankan produksi di masa mendatang.
Harapan Petani dan Konsumen
Meskipun situasi ini memberikan tantangan besar bagi petani, ada harapan bahwa cuaca akan membaik dan rantai distribusi bisa lebih efisien. Dengan kolaborasi antara pemerintah, petani, dan masyarakat, diharapkan harga cabai kembali normal dalam waktu dekat.
Sementara itu, konsumen diharapkan tetap mendukung produk lokal dan memahami kondisi sulit yang dihadapi petani. Dengan membeli di bazar murah, tidak hanya masyarakat yang diuntungkan, tetapi juga petani yang terdampak cuaca buruk.
Selama cabai tetap menjadi bumbu favorit masyarakat Indonesia, langkah bersama untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan di pasar adalah kunci utama.


















