investigasiindonesia.com – Harga cabai di Lombok Timur terus melambung liar tanpa kendali. Cuaca ekstrem menghajar lahan petani tanpa ampun, membuat tanaman cabai mereka rusak parah. Stok semakin menipis, sementara kebutuhan di pasar lokal terus membengkak. Pemerintah tak punya pilihan selain menghentikan pengiriman cabai ke luar daerah, mengamankan stok agar masyarakat Lombok Timur tidak kelaparan cabai.
Ketua Champion Cabai Lombok Timur, H. Subhan, bersama Dirjen Hortikultura, Pemkab Lombok Timur, dan TPID, turun tangan dengan jurus bazar murah. Cabai dilempar ke pasar dengan harga petani langsung, berkisar Rp 60 ribu hingga Rp 65 ribu per kilogram. Langkah ini ditujukan untuk memotong mafia perantara yang selama ini memainkan harga seenaknya. Masyarakat diminta berhenti membeli cabai di pasar umum dan beralih ke bazar agar harga tidak semakin menggila.
Petani yang sudah kepayahan tak punya waktu untuk bersantai. Mereka harus segera menanam kembali dengan harapan hasil panen berikutnya bisa menyelamatkan nasib mereka. Tanaman cepat berbuah menjadi satu-satunya jalan keluar agar mereka tidak makin terpuruk.
Di tengah krisis harga yang meledak ini, Lombok Timur yang selama ini dikenal sebagai penyokong cabai nasional justru harus berjuang mempertahankan pasokan untuk wilayah sendiri. Daerah lain pun mulai melakukan langkah serupa, menjaga stok masing-masing demi kepentingan sendiri. Harga cabai yang dulu bisa dikendalikan kini seolah menjadi arena pertempuran antara petani, pedagang, dan kebijakan pemerintah.
Masyarakat hanya bisa pasrah, menunggu harga kembali waras, sementara petani harus bertaruh nyawa dengan cuaca dan kebijakan yang tak bisa diprediksi.


















