investigasiindonesia.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat laju inflasi year on year (y-on-y) sebesar 1,15% pada Maret 2025. Angka ini menunjukkan stabilitas harga yang terjaga dengan baik di tengau dinamika ekonomi nasional. Indeks Harga Konsumen (IHK) NTB pada periode yang sama berada di level 107,97, mencerminkan kenaikan harga yang masih terkendali.
Kepala BPS NTB, Wahyudin, menjelaskan bahwa inflasi ini dipengaruhi oleh kenaikan indeks kelompok pengeluaran. Penyumbang terbesar inflasi y-on-y berasal dari tarif listrik dengan kontribusi 1,35%, diikuti oleh cabai rawit (0,29%), ikan teri (0,15%), emas perhiasan (0,08%), dan daging ayam ras (0,06%).
Selain itu, beberapa komoditas lain turut memberikan andil terhadap inflasi, seperti emas perhiasan, cabai rawit, ikan teri, biaya pendidikan (akademi/perguruan tinggi), bawang merah, sigaret kretek mesin (SKM), minyak goreng, kopi bubuk, terong, sewa rumah, dan sepeda motor. Sementara itu, sejumlah komoditas justru memberikan efek deflasi, antara lain tarif listrik, beras, tomat, angkutan udara, telur ayam ras, ikan bandeng, dan telepon seluler.
Pada perhitungan month-to-month (m-to-m), inflasi Maret 2025 juga dipengaruhi oleh kenaikan harga tarif listrik, cabai rawit, ikan teri, emas perhiasan, dan daging ayam ras. Di sisi lain, deflasi m-to-m terjadi pada komoditas seperti angkutan udara, ikan layang, cabai merah, tomat, dan bayam.
Kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks meliputi transportasi (0,05%), informasi dan komunikasi (0,75%), serta perumahan, air, dan listrik (3,5%). Data ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan inflasi di beberapa sektor, pemerintah dan pelaku pasar berhasil menjaga keseimbangan harga secara keseluruhan.
Dengan inflasi yang masih dalam batas wajar, perekonomian NTB dinilai tetap stabil, memberikan ruang bagi masyarakat untuk beradaptasi dengan perubahan harga tanpa gejolak yang signifikan.


















