investigasiindonesia.com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) segera melaksanakan langkah nyata menyusul instruksi Presiden Prabowo Subianto terkait revitalisasi jaringan irigasi. Kolaborasi antara Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB, Dinas PUPR, serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara 1 telah dimulai dengan rapat koordinasi untuk menyusun perencanaan matang.
Kepala Distanbun NTB, Muhammad Taufieq, menyatakan bahwa program ini bertujuan mengoptimalkan pengairan bagi 20 ribu hektare sawah di Lombok dan Sumbawa. “Kami sedang mengumpulkan data detail dari BBWS untuk memetakan kerusakan saluran, baik akibat usia infrastruktur, minimnya perawatan, atau keterbatasan anggaran sebelumnya,” ujarnya penuh semangat.
Taufieq menekankan, revitalisasi akan fokus pada lokasi yang belum terjangkau program BBWS, sehingga tidak terjadi tumpang tindih. “Kami memastikan setiap titik perbaikan memberikan dampak maksimal, dari hulu hingga hilir,” tambahnya. Salah satu prioritas adalah memastikan saluran primer berfungsi optimal agar air mampu mengalir lancar ke sekunder dan tersier, didukung sumber air seperti bendungan atau embung.
Dari sisi produktivitas, proyeksi hasilnya cukup menggembirakan. Dengan produktivitas rata-rata 5,2 ton per hektare, revitalisasi ini berpotensi menambah pasokan gabah kering giling lebih dari 100 ribu ton. “Anggaran sekitar Rp100 miliar kami harap bisa mencakup luasan lebih besar dari target awal,” jelas Taufieq, seraya menegaskan komitmen NTB sebagai daerah surplus pangan untuk berkontribusi pada ketahanan pangan nasional.
Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, turut menyoroti urgensi program ini. “Banyak saluran irigasi peninggalan era Orde Baru yang membutuhkan pembaruan. Dukungan Pak Presiden akan mempercepat peningkatan produksi pertanian kami,” katanya. Langkah NTB ini mendapat apresiasi luas, dinilai sebagai terobosan positif yang sejalan dengan visi pemerintah pusat untuk swasembada pangan.
Ke depan, penyusunan dokumen perencanaan akan dilaksanakan dengan cermat, mencakup analisis teknis dan kebutuhan anggaran. Semangat gotong royong antarinstansi menjadi kunci agar revitalisasi irigasi benar-benar membawa berkah bagi petani dan stok pangan Indonesia.


















