investigasiindonesia.com – Pantai Loang Baloq, salah satu destinasi wisata unggulan di Kota Mataram, tiba-tiba menjadi sorotan setelah foto-foto tumpukan sampah yang menggunung viral di media sosial. Plastik bekas, kemasan makanan, hingga dedaunan kering berserakan di sepanjang bibir pantai, mengganggu pemandangan alam yang seharusnya memesona.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram, Cahya Samudra, langsung turun tangan menegur pengelola kawasan setelah unggahan warganet Jejak Blackboy menyebar luas. Dalam postingannya, akun tersebut mempertanyakan alokasi dana retribusi pengunjung yang seharusnya bisa digunakan untuk menjaga kebersihan pantai.
“Pengelola sudah kami panggil dan ingatkan untuk lebih serius menangani sampah. Ini bukan hanya soal estetika, tapi juga komitmen kita terhadap lingkungan,” tegas Cahya saat dikonfirmasi.
Pantai Loang Baloq memang memiliki tantangan kebersihan yang kompleks. Selain sampah dari pengunjung dan pedagang, arus laut juga sering membawa sampah dari muara ke pantai. Namun, Cahya menegaskan bahwa pengelola tidak bisa berlepas tangan. “Sumber sampah bisa dari mana saja, tapi tanggung jawab membersihkan tetap ada di pihak pengelola,” ujarnya.
Warganet pun ramai memberikan tanggapan. Banyak yang kecewa melihat kondisi pantai yang seharusnya menjadi kebanggaan warga Mataram. “Dengan retribusi Rp3.000–Rp5.000 per orang, seharusnya ada petugas kebersihan yang bekerja setiap hari,” tulis salah satu komentar.
Selain sebagai tempat wisata, Loang Baloq juga memiliki nilai sejarah dan spiritual karena adanya makam keramat yang sering diziarahi. Kawasan ini masuk dalam prioritas pengembangan pariwisata berbasis budaya dan alam. Namun, persoalan sampah yang terus berulang bisa menjadi bumerang bagi citra destinasi ini.
Pemkot Mataram diharapkan segera mengambil langkah tegas, tidak hanya menegur, tetapi juga memastikan ada sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin pengunjung akan berpikir dua kali sebelum datang.


















