investigasiindonesia.com – Di tengah derasnya arus budaya produktivitas dan kesuksesan di China, sekelompok anak muda justru memilih jalan berbeda. Mereka menolak tekanan sosial untuk menjadi yang terbaik, bekerja keras, atau memenuhi standar kesuksesan konvensional. Sebaliknya, mereka lebih suka menghabiskan waktu dengan santai—berbaring di tempat tidur, menikmati makanan siap saji, dan menjauhi keramaian. Kelompok ini menyebut diri mereka “manusia tikus” (rat people), sebuah istilah yang kini viral dan memicu perdebatan tentang makna kebahagiaan di era modern.
Lin, seorang perempuan asal Beijing, adalah salah satu dari mereka. Ia memilih bekerja dari rumah untuk meminimalisir interaksi dengan rekan kerja. Baginya, obrolan kantor yang dipenuhi basa-basi hanya membuang energi. Di luar jam kerja, Lin lebih suka menghabiskan waktu dengan tidur, bermain gim, atau menonton serial favorit. “Tidak perlu selalu terlihat semangat atau ambisius. Hidup bukan tentang memenuhi ekspektasi orang lain. Yang penting saya merasa tenang dan nyaman,” ujarnya.
Fenomena ini bukan sekadar gaya hidup malas, melainkan bentuk perlawanan terhadap tekanan sosial yang kian membebani generasi muda China. Di negara yang terkenal dengan budaya kerja keras dan kompetisi ketat, banyak anak muda merasa lelah dengan tuntutan untuk selalu sukses. Zhang Yong, seorang pekerja sosial dari Hubei, melihat tren ini sebagai gejala “penarikan diri dari masyarakat” (social withdrawal). “Ini adalah respons alami ketika generasi muda merasa kewalahan dengan ekspektasi yang tidak realistis,” jelasnya.
Meski sering dianggap negatif, gaya hidup “manusia tikus” justru mendapat dukungan dari banyak kalangan. Sebagian netizen mengapresiasi keberanian mereka menolak standar hidup yang kaku. “Mereka mungkin terlihat malas, tapi sebenarnya mereka hanya mencari kebahagiaan dengan cara sendiri,” tulis salah satu komentar di media sosial.
Psikolog Li Mei menambahkan, tren ini mencerminkan perubahan nilai di kalangan generasi muda. “Mereka mulai mempertanyakan definisi sukses yang selama ini dipaksakan. Bagi sebagian orang, kebahagiaan bisa datang dari hal-hal sederhana, bukan dari gaji besar atau jabatan tinggi,” ujarnya.
Fenomena “manusia tikus” mungkin kontroversial, tetapi ia membuka diskusi penting tentang keseimbangan hidup, kesehatan mental, dan hak untuk memilih jalan hidup sendiri. Di tengah dunia yang terus mendorong produktivitas tanpa henti, mungkin ada pelajaran berharga dari mereka yang berani berkata, “Cukup.”


















