investigasiindonesia.com – Pengusaha perhiasan Mehul Choksi (65) akhirnya ditangkap di Antwerp, Belgia, setelah tujuh tahun menjadi buronan. Pria yang dituding sebagai otak pembobolan Punjab National Bank (PNB) senilai Rp23,6 triliun ini sempat menghilang sejak 2018, menghindari jerat hukum di India.
Menurut laporan Hindustan Times, Choksi ditangkap akhir pekan lalu setelah otoritas Belgia menemukan keberadaannya. Pengacaranya, Vijay Agarwal, mengklaim kliennya tinggal secara legal di Belgia dengan izin tinggal lima tahun, didapat melalui istrinya yang berkewarganegaraan Belgia. Agarwal juga menyatakan Choksi sedang menjalani perawatan kanker dan berencana mengajukan pembebasan dengan alasan kesehatan.
Namun, pemerintah India tak tinggal diam. Sejumlah petugas segera dikirim ke Belgia untuk mempercepat proses ekstradisi. India Today melaporkan, Choksi sempat berencana pindah ke Swiss untuk berobat, tetapi rencananya itu kini terhambat.
Skandal Perbankan Terbesar India
Kasus ini bermula pada 2018 ketika PNB menemukan 1.212 surat jaminan pembayaran palsu yang diterbitkan antara 2011-2016. Mayoritas dokumen itu digunakan untuk pembelian mutiara dan berlian oleh perusahaan Choksi, Gitanjali Group, yang menguasai 4.000 toko perhiasan di India.
Modi sempat membantah tuduhan dan menawarkan aset senilai 65 miliar rupee sebagai ganti rugi. Namun, ia dan Choksi memilih kabur saat investigasi dimulai. Modi ditangkap di London pada 2019 dan masih menunggu ekstradisi, sementara Choksi sempat terdeteksi di Antigua sebelum akhirnya tertangkap di Belgia.
Perjalanan Panjang Buron Internasional
Choksi sempat mendapatkan kewarganegaraan Antigua dan Barbuda sebelum kasusnya terungkap, memicu kecurigaan upaya melarikan diri. Ia juga dilaporkan pernah berada di Dominika pada 2021 sebelum kembali menghilang.
Kini, dengan penangkapannya, India semakin dekat untuk membawa pulang salah satu buronan paling dicari. Proses hukum masih panjang, tetapi penangkapan ini menjadi titik terang bagi korban dan pihak bank yang dirugikan.
Masyarakat India menyambut kabar ini dengan antusias, berharap kasus ini menjadi pelajaran bagi pelaku kejahatan keuangan bahwa pelarian bukanlah solusi abadi.


















