investigasiindonesia.com – Surakarta menjadi sorotan setelah kediaman Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, ramai dikunjungi sejumlah menteri Kabinet Merah Putih dalam beberapa hari terakhir. Kunjungan ini mencuri perhatian publik, bukan karena kontroversi, melainkan karena nuansa kehangatan silaturahmi pasca-Lebaran yang terjalin di antara elite pemerintahan.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono serta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjadi dua nama terbaru yang bertandang ke rumah Jokowi pada Jumat (11/4/2025). Keduanya menegaskan bahwa kunjungan tersebut murni dalam rangka menjaga tali persaudaraan.
“Ini tradisi baik, silaturahmi dengan bos saya, baik dulu maupun sekarang,” ujar Trenggono dengan senyum ramah. Budi Gunadi juga menyebut Jokowi sebagai pemimpin yang dihormatinya. “Kami datang untuk bermaaf-maafan, karena beliau adalah sosok yang sangat kami hormati,” tambahnya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menkopolhukam Zulkifli Hasan, dan Kepala BKKBN Wihaji juga telah lebih dulu menyambangi Jokowi. Kunjungan mereka bertepatan dengan lawatan Presiden Prabowo Subianto ke lima negara Timur Tengah, menambah warna tersendiri dalam dinamika politik nasional.
Nuansa Lebaran, Bukan Pertarungan Kekuasaan
Meski memicu beragam tafsir, para menteri ini menegaskan bahwa tradisi silaturahmi Lebaran adalah hal yang lumrah dalam budaya Indonesia. Bahlil, yang juga Ketua Umum Partai Golkar, menekankan bahwa kunjungan tersebut tidak ada kaitannya dengan politik praktis.
“Kami tahu siapa pemimpin kami sekarang, tapi menghormati senior adalah bagian dari adab,” ujarnya.
Pernyataan serupa datang dari Sekjen Golkar Muhammad Sarmuji, yang menyebut bahwa para menteri tetap setia kepada Presiden Prabowo. “Mereka paham betul siapa yang mengangkat mereka. Tapi berlebaran dengan sesama tokoh bangsa itu hal yang wajar,” tegasnya.
Transisi Damai, Komunikasi Terbuka
Pakar komunikasi politik Gun Gun Heryanto melihat fenomena ini sebagai cerminan transisi pemerintahan yang sehat. “Ini menunjukkan bahwa hubungan antar-elite tetap terjalin baik, meski dalam konteks politik yang dinamis,” ujarnya.
Ketua DPR Puan Maharani juga menanggapi positif kunjungan tersebut. “Silaturahmi adalah tradisi yang memperkuat persatuan, bukan pertanda perpecahan,” katanya.
Di tengah sorotan media, kunjungan para menteri ke Jokowi justru menjadi contoh bagaimana elite politik bisa menjaga harmoni di luar kepentingan kekuasaan. Sebuah gambaran bahwa di balik dinamika politik, tali persaudaraan tetap bisa dijaga dengan hangat.
Prabowo-Jokowi: Hubungan yang Tetap Solid
Presiden Prabowo sendiri sebelumnya telah bersilaturahmi dengan Megawati Soekarnoputri, menunjukkan bahwa komunikasi antar-pemimpin bangsa tetap berjalan baik. Lawatannya ke Timur Tengah juga berjalan sukses, menandakan fokus pemerintah pada diplomasi dan pembangunan.
Dengan demikian, kunjungan para menteri ke Jokowi bisa dibaca sebagai bagian dari budaya politik Indonesia yang kaya akan nilai-nilai kekeluargaan—bukan sebagai pertanda perpecahan, melainkan bukti bahwa hubungan baik tetap terjalin di tengah perubahan kekuasaan.
Satu hal yang pasti: di era pemerintahan baru ini, harmoni tetap menjadi fondasi utama, meski dinamika politik terus bergulir.


















