investigasiindonesia.com – Di tengah ramainya pemberitaan tentang inflasi nasional, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) justru mencatatkan fenomena luar biasa: daya beli petani melesat tajam meski harga kebutuhan umum mengalami kenaikan. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) NTB menunjukkan Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 124,99 poin pada Maret 2025—angka tertinggi dalam empat bulan terakhir.
Kenaikan ini tidak hanya sekadar angka, melainkan bukti nyata menggeliatnya perekonomian desa. NTP yang naik 2,38 poin dari Februari (122,61) sekaligus mematahkan kekhawatiran bahwa inflasi akan membebani kehidupan petani. “Ini pertanda kuat bahwa pendapatan petani tumbuh lebih cepat dibanding pengeluaran mereka,” tegas Wahyudin, Kepala BPS NTB.
Hortikultura Jadi Bintang, Daya Beli Melejit 13,37%
Subsektor hortikultura menjadi penyumbang utama lonjakan NTP dengan indeks mencengangkan: 219,24 poin! Kenaikan harga yang diterima petani hortikultura bahkan menyentuh 13,37%, jauh melampaui kenaikan biaya produksi yang hanya 1,62%. Artinya, petani sayur dan buah di NTB kini menikmati keuntungan berlipat.
Tak kalah menarik, subsektor peternakan dan tanaman pangan juga menunjukkan tren positif. Harga komoditas seperti daging dan beras naik rata-rata 1,3-1,4%, sementara biaya produksi relatif terkendali. “Ini momentum emas untuk memperkuat ketahanan pangan lokal,” tambah Wahyudin.
NTUP Tembus 128,46 Poin: Efisiensi Usaha Tani Makin Tangguh
Lebih menggembirakan lagi, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP)—indikator yang mengukur efisiensi usaha tani—melonjak 2,87% menjadi 128,46 poin. Angka ini membuktikan petani NTB semakin cerdik mengelola biaya produksi tanpa mengorbankan kualitas hasil panen.
“Ketika banyak daerah khawatir dengan inflasi, petani NTB justru berbalik memanfaatkan situasi. Mereka tidak hanya bertahan, tapi unggul,” pungkas Wahyudin. Analis memprediksi, jika tren ini berlanjut, NTB berpotensi menjadi contoh bagi provinsi lain dalam menggerakkan ekonomi dari desa.
Laporan lengkap BPS NTB menyoroti bahwa seluruh subsektor pertanian di provinsi ini memiliki NTP di atas 100—indikator ideal bahwa pendapatan petani lebih tinggi dari pengeluarannya. Dengan capaian ini, optimisme menyambut musim tanam berikutnya semakin menguat.


















