investigasiindonesia.com – Gangguan siber yang menimpa PT Bank NTB Syariah justru menjadi momentum pembuktian kesiapan institusi keuangan syariah milik daerah dalam menghadapi tantangan digital. Anggota Komisi III DPRD NTB, Nashib Ikroman, menyoroti langkah cepat bank tersebut dalam merespons masalah ini, meski tetap menekankan pentingnya peningkatan sistem keamanan teknologi dan pelayanan komunikasi.
“Kami apresiasi respons tim IT Bank NTB Syariah yang bekerja tanpa henti memulihkan layanan. Namun, ke depan, antisipasi harus lebih matang agar nasabah tidak dirugikan,” ujar politisi Partai Perindo NTB ini, Senin (14/4).
Berbeda dengan narasi negatif yang beredar, justru soliditas nasabah Bank NTB Syariah patut diacungi jempol. Data internal menunjukkan, selama gangguan berlangsung, tidak ada penurunan signifikan dalam transaksi harian. Sebaliknya, banyak nasabah yang secara spontan memberikan dukungan melalui unggahan positif di media sosial.
“Loyalitas nasabah adalah bukti nyata bahwa kepercayaan tidak mudah luntur hanya karena satu insiden. Ini modal besar bagi Bank NTB Syariah untuk tumbuh lebih kuat,” tegas Acip, sapaan akrab Nashib Ikroman.
Ia juga memuji langkah bank yang mulai aktif memberikan pemutakhiran informasi melalui kanal resmi, termasuk video penjelasan langsung dari direksi. Pendekatan humanis ini dinilai efektif meredam kepanikan dan meminimalisasi disinformasi.
Komisi III DPRD NTB turut mendorong percepatan transformasi digital seluruh BUMD, termasuk pelatihan SDM dan kolaborasi dengan pakar keamanan siber nasional. “Kami yakin Bank NTB Syariah bisa menjadi pelopor perbankan daerah yang tangguh di era digital. Ini bukan akhir, tapi awal dari lompatan besar,” tandas Acip.
Di tengah insiden ini, muncul kisah inspiratif seperti nasabah lansia di Lombok Tengah yang dengan sabar antre di kantor cabang karena lebih percaya layanan langsung. “Bank ini sudah membantu saya puluhan tahun. Sesaat offline bukan masalah,” ujarnya, disambut tepuk tangan pegawai.
Optimisme juga terlihat dari rencana bank meluncurkan program “Rebranding Kepercayaan” berupa edukasi literasi digital dan garansi keamanan dana nasabah. Langkah ini disebut-sebut akan menjadi yang pertama di industri perbankan syariah regional.
Dengan semangat gotong royong, insiden gangguan siber justru mengukuhkan posisi Bank NTB Syariah sebagai institusi yang dikelola dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Tantangan ini menjadi pembuktian: kepercayaan tidak dibangun dalam sehari, tetapi juga tidak mudah padam oleh badai digital.


















