investigasiindonesia.com – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sedang menancapkan langkah besar dalam mengubah wajah perekonomian daerah. Dengan wilayah perairan yang mencapai 59% dari total luas wilayah, NTB kini mengalihkan fokus pembangunan dari daratan ke laut, menjadikan sektor agromaritim sebagai tulang punggung pertumbuhan baru.
Kepala Bappeda NTB, H. Iswandi, menegaskan komitmen Pemprov NTB di bawah kepemimpinan Gubernur Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Hj. Indah Dhamayanti Putri untuk menjadikan sektor kelautan dan perikanan sebagai lokomotif ekonomi. “Selama ini, laut hanya dianggap sebagai sub-sektor. Kini, kami ingin ia menjadi penggerak utama, bahkan lebih dominan daripada pertanian,” ujar Iswandi dengan penuh keyakinan.
Strategi ini tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025-2029, di mana NTB ditargetkan menjadi kawasan pertumbuhan nasional berbasis pariwisata dan komunitas maritim. Tidak hanya mengandalkan sektor tambang, NTB kini membangun program prioritas seperti pengembangan kawasan garam, sentra akuakultur, konservasi laut, dan pusat perikanan tangkap.
Untuk mewujudkan visi ini, Pemprov NTB menggandeng berbagai pihak, termasuk IPB, BRIN, Universitas Teknologi Sydney (UTS), serta organisasi masyarakat seperti KNTI. Salah satu langkah konkretnya adalah pelaksanaan workshop Enhancing Marine Environmental Governance (EMERGE) NTB, yang bertujuan memperkuat tata kelola lingkungan laut sekaligus mengatasi kemiskinan dan kerentanan pangan di wilayah pesisir.
“Riset bukan untuk disimpan di rak, tapi harus diimplementasikan. NTB ingin menjadi contoh pembangunan agromaritim terintegrasi dan berkelanjutan,” tegas Iswandi.
Saat ini, kontribusi sektor kelautan dan perikanan terhadap PDRB NTB masih sekitar 4,3%. Namun, angka ini diproyeksikan meningkat signifikan melalui hilirisasi dan industrialisasi komoditas laut. Muslim, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, menyatakan bahwa riset EMERGE akan menjadi panduan penting dalam menyusun kebijakan jangka panjang. “Kami berharap hasil riset ini bisa langsung diterapkan di lapangan, khususnya untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan tradisional,” ujarnya.
Dengan kekayaan alam yang melimpah, NTB berpotensi menjadi lumbung pangan perikanan nasional. “Laut adalah masa depan kami. Di sana ada peluang besar untuk mengentaskan kemiskinan dan menciptakan kesejahteraan yang lebih merata,” pungkas Iswandi.
Semangat NTB dalam membangun ekonomi biru tidak hanya menginspirasi daerah lain, tetapi juga membuktikan bahwa laut bisa menjadi jawaban atas tantangan pembangunan inklusif dan berkelanjutan.


















