investigasiindonesia.com – Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan gencatan senjata selama 30 jam sebagai bentuk penghormatan terhadap perayaan Paskah. Keputusan ini langsung direspons oleh dunia internasional dengan harapan meredakan ketegangan di wilayah konflik. Gencatan senjata dimulai Sabtu (19/4) pukul 18.00 waktu setempat dan berlangsung hingga Senin (21/4), dengan Putin memerintahkan penghentian total operasi militer Rusia selama periode tersebut.
Dalam pertemuan dengan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Rusia Valery Gerasimov, Putin menyatakan harapannya agar Ukraina turut mengikuti langkah ini. “Kami berasumsi bahwa pihak Ukraina akan mengambil sikap yang sama,” ujarnya melalui siaran resmi Kremlin. Namun, respons Ukraina tidak sepenuhnya positif. Presiden Volodymyr Zelensky melaporkan bahwa serangan artileri Rusia masih terjadi di sejumlah titik garis depan, meski gencatan senjata telah diumumkan.
Zelensky menyambut inisiatif gencatan senjata dengan catatan. Dia menegaskan bahwa 30 jam tidak cukup untuk membangun kepercayaan antara kedua belah pihak. “Jika Rusia benar-benar menginginkan perdamaian, kami meminta perpanjangan menjadi 30 hari. Itu akan menjadi ujian nyata bagi niat baik mereka,” tegasnya dalam wawancara dengan CNN.
Dunia internasional, termasuk PBB dan sejumlah negara, mendorong kedua pihak memanfaatkan momen ini untuk membuka ruang dialog. Gencatan senjata singkat ini dinilai sebagai langkah kecil yang bisa menjadi pintu masuk menuju negosiasi lebih lanjut. Masyarakat di zona konflik pun berharap momen Paskah membawa perdamaian yang lebih panjang, meski situasi di lapangan masih penuh ketidakpastian.
Sementara itu, warga sipil di wilayah terdampak memanfaatkan jeda sementara ini untuk mengunjungi keluarga, memperbaiki rumah, atau sekadar bernapas lega dari hiruk-pikuk perang. Banyak yang berharap gencatan senjata ini bukan sekadar simbol, melainkan awal dari jalan menuju perdamaian abadi.


















