investigasiindonesia.com – Gemuruh semangat kreatif siap membahana di Gili Air, Lombok Utara, ketika Soundtuari International Festival 2025 digelar pada 5–7 September mendatang. Pemprov NTB memberikan lampu hijau penuh untuk event kolosal ini, yang diprediksi menjadi magnet wisatawan global sekaligus panggung kebanggaan masyarakat lokal.
Wakil Gubernur NTB, Hj. Indah Dhamayanti Putri, menyambut antusias rencana penyelenggara festival, PT Garda Utama Edukasi, dalam audiensi pekan ini. “Ini momen emas untuk memamerkan keelokan tiga Gili dan kekuatan UMKM NTB ke dunia. Sinergi semua pihak adalah kunci kesuksesannya,” ujar Umi Dinda, seraya mendorong agar festival ini masuk dalam kalender tahunan provinsi.
Gili Air, yang selama ini kerap tersembunyi di balik popularitas Gili Trawangan, kini siap menjadi pusat perhatian. Kepala Dinas Pariwisata NTB, Jamaludin Malady, menegaskan, “Ini event internasional pertama di Gili Air. Infrastruktur air bersih yang sudah tersedia jadi nilai tambah besar untuk menarik investor dan tamu VIP global.”
Dengan tema “Love is Gili Air”, festival ini bukan sekadar pesta musik. Marcelia Lesar, founder penyelenggara, membeberkan konsep holistik yang memadukan seni, budaya, dan pemberdayaan ekonomi. “Kami akan suguhkan upacara adat, tarian tradisional, hingga pameran tenun khas Lombok Utara. Ini adalah cinta kami untuk NTB,” tutur penyanyi jazz ternama itu.
Sebanyak 166 booth UMKM akan membanjiri area seluas 1 hektar, menyajikan kuliner, kerajinan, dan produk kreatif asli NTB. Tak kalah spektakuler, deretan musisi lokal dan internasional dari berbagai genre siap menghipnotis penonton—tanpa mengganggu jadwal ibadah masyarakat setempat.
Target 65% wisatawan mancanegara bukanlah impian kosong. Dengan dukungan penuh pemerintah dan semangat kolaborasi, Soundtuari International Festival 2025 diproyeksikan memicu gelombang ekonomi kreatif sekaligus menancapkan Gili Air sebagai destinasi wajib di peta pariwisata dunia. “Siapapun yang datang akan membawa pulang cerita tentang harmoninya alam, budaya, dan kearifan lokal kami,” tambah Marcelia.
Sekarang, semua mata tertuju pada September mendatang—saat Gili Air tak hanya bersuara, tetapi juga menggema ke seluruh penjuru bumi.


















