investigasiindonesia.com – Keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) di sekitar Taman Kota Selong terus memantik perdebatan. Di satu sisi, mereka dianggap mengganggu keindahan dan ketertiban kawasan, sementara di sisi lain, mereka adalah warga yang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Satpol PP Lombok Timur mengaku terjepit dalam situasi ini, karena penertiban kerap berujung ketegangan tanpa solusi nyata.
“Kami dihadapkan pada dilema. Jika ditertibkan, mereka melawan karena tidak punya tempat lain. Tapi jika dibiarkan, taman jadi tidak tertata,” ungkap Kasat Pol PP Lombok Timur, Slamet Alimin. Ia mengakui, akar masalahnya adalah belum adanya lokasi relokasi yang layak. Beberapa kali upaya penertiban, termasuk di sekitar kantor Dukcapil, justru memicu perlawanan dari PKL yang merasa tidak diberi alternatif.
Namun, di balik kisah klasik ini, muncul geliat harapan. Pemerintah daerah dikabarkan sedang merancang solusi jangka panjang, termasuk pembangunan pasar khusus PKL atau penataan zona berjualan yang lebih manusiawi. “Kami tidak ingin sekadar menggusur, tapi mencari win-win solution,” tegas Slamet.
Yang menarik, sejumlah pedagang justru mengajukan ide kreatif. “Kenapa tidak dibuatkan spot khusus di taman yang tidak mengganggu pengunjung? Kami siap bayar retribusi asal dapat tempat layak,” usul Siti, salah seorang PKL yang sudah 5 tahun berjualan di lokasi. Beberapa pengunjung taman juga mendukung kompromi ini. “PKL itu bagian dari warna kota. Asal tertata, justru bisa jadi daya tarik,” kata Andi, seorang pengunjung.
Sementara menunggu kepastian relokasi, Satpol PP memilih pendekatan persuasif. PKL diminta menjaga kebersihan, tidak berjualan di jam padat, dan tidak memarkir gerobak sembarangan. “Kolaborasi adalah kuncinya. Kami ingin kota tertib, tapi juga tidak mengabaikan hak warga,” pungkas Slamet.
Cerita ini bukan sekadar soal pelanggaran aturan, tapi tentang bagaimana sebuah kota mencari keseimbangan antara ketertiban dan empati. Jika solusi inovatif bisa ditemukan, bukan tidak mungkin Taman Kota Selong akan menjadi contoh harmoni antara PKL dan keindahan ruang publik.


















