investigasiindonesia.com – Badan Urusan Logistik (Bulog) NTB terus memperluas jaringan kemitraan untuk mempercepat penyerapan gabah dari petani lokal. Hingga April 2025, sebanyak 110 mitra telah bekerja sama dengan Bulog NTB, baik di kantor wilayah maupun cabang di 10 kabupaten/kota. Angka ini meningkat signifikan dibanding akhir 2024 yang hanya sekitar 90 mitra.
Pemimpin Wilayah Bulog NTB, Sri Muniarti, menyatakan bahwa pihaknya membuka peluang bagi penggilingan padi, penyedia gudang, maupun Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk bergabung sebagai mitra. “Kami mengajak semua pihak yang memiliki fasilitas pengeringan, penggilingan, atau gudang untuk bersinergi mendukung petani,” ujarnya.
Tahun ini, Bulog NTB menargetkan penyerapan 109.831 ton gabah kering panen (GKP) dan 120.973 ton beras. Capaian hingga akhir April 2025 telah melampaui target, dengan realisasi gabah mencapai 147.292 ton (134% dari target) dan beras 22.332 ton (18%). Harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah tetap Rp6.500/kg, sedangkan beras medium Rp12.000/kg.
Sri menegaskan, stok beras pemerintah di NTB saat ini aman dengan cadangan 105.000 ton—siap disalurkan jika diperlukan. Beras tersebut berkualitas medium dengan harga pasaran sekitar Rp13.000/kg, masih di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp12.500/kg.
Meski infrastruktur pengeringan dan penggilingan masih terbatas, Bulog NTB optimis dengan dukungan mitra yang aktif. “Kami mendorong modernisasi sarana untuk mengoptimalkan potensi NTB sebagai penghasil gabah terbesar,” pungkas Sri.
Langkah ini mendapat apresiasi dari petani dan pelaku usaha, yang melihatnya sebagai upaya konkret menjaga stabilitas harga sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani lokal.


















