banner 728x250

Senggigi di Ambang Krisis air, Perjuangan Kawasan Wisata Legendaris Hadapi Kelangkaan Air Bersih

banner 120x600
banner 468x60

investigasiindonesia.com – Senggigi, destinasi wisata ikonis di Nusa Tenggara Barat, kembali menunjukkan ketangguhannya setelah bertahun-tahun dilanda ujian berat. Mulai dari dampak bom Bali 2004, gempa Lombok 2018, hingga pandemi Covid-19 yang melumpuhkan sektor pariwisata, kawasan ini terus berjuang untuk bangkit. Namun, di tengah geliat pemulihan yang mulai terlihat sejak awal 2024, masalah klasik kembali menghantui: ketersediaan air bersih yang masih jauh dari memadai.

H. Lalu Hery Prihatin, mantan Ketua Kadin NTB sekaligus pelaku usaha di Senggigi, menyuarakan keprihatinannya atas kondisi ini. Menurutnya, masalah distribusi air oleh PDAM telah berlangsung bertahun-tahun tanpa solusi nyata. Bahkan, dalam banyak kasus, warga dan pelaku usaha hanya mendapatkan aliran air selama satu jam di dini hari, sekitar pukul 03.00 WITA. Di luar waktu itu, yang keluar dari keran hanyalah udara kosong.

banner 325x300

“Kami membeli air untuk dijual kembali kepada masyarakat dan wisatawan, tapi yang didapat malah angin. Bagaimana mungkin destinasi wisata bisa maju jika kebutuhan dasar seperti air bersih saja tidak terpenuhi?” ujar Lalu Hery dengan nada tegas. Ia menekankan bahwa masalah ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan juga terkait akuntabilitas pengelolaan PDAM yang dinilai masih lemah.

Gempa Lombok 2018 disebut sebagai titik awal memburuknya kondisi ini, terutama di kawasan perbukitan Senggigi yang memiliki tekanan air rendah. Kerusakan infrastruktur distribusi air hingga kini belum sepenuhnya diperbaiki, meski sebenarnya solusi teknis seperti pembangunan reservoir dan penggunaan pompa dorong sangat memungkinkan untuk diimplementasikan.

“Teknologi sudah ada, tinggal kemauan dan komitmen dari pihak terkait untuk bertindak,” tegas Lalu Hery.

Senggigi, dengan pantai eksotis dan sunset memukau, sebenarnya masih menyimpan potensi besar sebagai destinasi unggulan NTB. Meski sempat kalah pamor dengan hadirnya Mandalika, letaknya yang strategis dan infrastruktur yang relatif mapan membuatnya tetap layak bersaing. Namun, tanpa dukungan serius dari pemerintah daerah, terutama dalam penyediaan air bersih, peluang untuk kembali bersinar akan semakin sulit diraih.

Lalu Hery berharap pemerintah tidak mengabaikan persoalan ini. Optimalisasi layanan PDAM bukan hanya menyangkut kenyamanan wisatawan, tetapi juga menjadi kunci pemulihan ekonomi lokal. Dengan pasokan air yang stabil, pelaku usaha bisa menekan biaya operasional, membuka lapangan kerja, dan berkontribusi lebih besar bagi pendapatan daerah.

“Senggigi bisa kembali menjadi primadona pariwisata NTB, asalkan masalah dasar seperti air bersih segera dituntaskan. Jangan sampai potensi besar ini terbuang sia-sia hanya karena ketidakpedulian,” pungkasnya.

Kini, semua mata tertuju pada langkah konkret pemerintah daerah. Apakah Senggigi akan benar-benar bangkit, atau terus terjebak dalam masalah yang sebenarnya bisa diatasi? Waktu yang akan menjawab.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *