investigasiindonesia.com – Di tengah tuduhan kejahatan kemanusiaan oleh Pengadilan Kriminal Internasional (ICC), mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte justru meraih kemenangan besar dalam pemilihan wali kota Davao. Dengan perolehan suara mencapai 405.000, ia mengalahkan pesaing terdekatnya yang hanya mendapat 49.000 suara.
Kota Davao pun langsung berubah menjadi lautan sukacita. Jalan-jalan dipenuhi konvoi kendaraan pendukung, balon warna-warni, dan spanduk bertuliskan “Bring Him Home”. Rakyat Davao rupanya tidak peduli dengan status Duterte sebagai tahanan ICC di Den Haag. Bagi mereka, sang mantan presiden tetap seorang pemimpin yang tegas dan dicintai.
Namun, kemenangan ini diwarnai tantangan unik: bagaimana cara Duterte dilantik sambil tetap berada dalam tahanan? Wakil Presiden Filipina Sara Duterte—yang juga putrinya—mengaku tim hukum sedang merancang solusi. Sementara itu, di media sosial, gelombang dukungan terus mengalir. Banyak warganet menuntut pembebasannya, menyatakan bahwa Davao membutuhkannya kembali.
Di tengah euforia ini, ada dinamika politik menarik: Sara Duterte sendiri sedang menghadapi badai pemakzulan di tingkat nasional. Presiden Ferdinand Marcos Jr. menuduhnya korupsi dan berencana membunuhnya. Jika Senat memvonisnya bersalah, karir politik Sara—yang disebut-sebut sebagai calon presiden terkuat 2028—bisa tamat.
Sementara itu, kedua putra Duterte juga meraih kemenangan. Paolo kembali ke kursi DPR, sementara Sebastian—yang sebelumnya menjabat wali kota—kini akan mendampingi sang ayah sebagai wakil. Keluarga Duterte rupanya masih menguasai panggung politik Filipina, meski badai hukum terus mengancam.
Davao telah memilih. Dan pilihannya jelas: mereka tetap berdiri di belakang Rodrigo Duterte, apapun yang terjadi.


















