investigasiindonesia.com – Awal tahun 2025 menjadi tantangan besar bagi para pengrajin dan pedagang mutiara di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Penurunan omzet bisnis mutiara terasa signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, memaksa pelaku usaha untuk berpikir kreatif dalam menjangkau pasar yang lebih luas.
Baiq Maesarah, pemilik Mutiara Lombok, mengungkapkan bahwa penurunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat. “Tahun ini omzet penjualan menurun dibandingkan tahun lalu,” ujarnya. Kebijakan tersebut mengurangi kegiatan rapat di hotel dan event-event besar yang biasanya menjadi momentum penjualan mutiara Lombok.
Dampaknya, permintaan mutiara sebagai kebutuhan tersier semakin menurun. “Orang berpikir dua kali sebelum membeli perhiasan di kondisi ekonomi seperti sekarang,” jelas Maesarah. Hanya kalangan menengah ke atas yang masih menjadi target pasar, sementara masyarakat menengah ke bawah lebih memprioritaskan kebutuhan primer.
Tak hanya Maesarah, banyak pelaku usaha mutiara lain yang merasakan dampak serupa, terutama pemilik galeri. “Teman-teman yang punya galeri sangat merasakan penurunan omzet karena minimnya kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition),” tambahnya.
Untuk menghadapi tantangan ini, Maesarah dan rekan-rekannya beralih ke strategi pemasaran online. “Saya fokus pada penjualan digital dengan memaksimalkan iklan berbayar,” tegasnya. Langkah ini diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar hingga ke luar NTB.
Ia juga berharap pemerintah meninjau ulang kebijakan efisiensi anggaran yang telah berjalan enam bulan ini. “Jika terus dilanjutkan, dampaknya bisa semakin parah—banyak usaha tutup, bahkan PHK karyawan terjadi karena omset terus merosot,” ungkapnya.
Meski situasi ekonomi sedang sulit, semangat para pengrajin mutiara Lombok tetap menyala. Dengan inovasi dan adaptasi di dunia digital, mereka bertekad bertahan dan bangkit kembali di tengah lesunya pasar mutiara NTB.


















