investigasiindonesia.com – Harga daging ayam di pasar-pasar tradisional Nusa Tenggara Barat (NTB) tiba-tiba melonjak dalam beberapa hari terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh menipisnya pasokan dari peternak lokal, memicu kekhawatiran di kalangan pedagang dan konsumen.
Di sejumlah pasar besar seperti Pasar Kebon Roek dan Pasar Mandalika, harga ayam per kilogram naik antara Rp 2.000 hingga Rp 5.000. Jika sebelumnya dijual Rp 35.000–Rp 38.000, kini harganya melesat ke kisaran Rp 37.000–Rp 43.000, tergantung lokasi.
“Biasanya saya bisa dapat 50 ekor per hari, sekarang cuma 25 ekor. Mau tidak mau, harga jual naik,” keluh Rahman, pedagang ayam di Pasar Kebon Roek, Mataram.
Penyebab utama kelangkaan ini diduga karena siklus panen yang belum tiba dan gangguan distribusi. Beberapa peternak mengeluhkan cuaca tidak menentu yang memengaruhi pemeliharaan ayam.
Dampaknya langsung terasa di masyarakat. Banyak ibu rumah tangga dan pelaku usaha kuliner terpaksa mengurangi pembelian atau beralih ke sumber protein lain. “Sekarang saya beli setengah kilogram saja, tidak seperti biasa satu kilogram,” ujar Susilawati, pembeli di Pasar Mandalika.
Data Dinas Perdagangan NTB per 15 Mei 2025 menunjukkan, harga rata-rata ayam mencapai Rp 39.883 per kilogram, naik Rp 1.845 dalam sepekan. Kenaikan ini memicu respons cepat dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah yang mulai memantau pasokan dan harga di pasar.
Meski harga naik, para pedagang berharap kondisi segera normal. Sementara itu, konsumen pun mulai beradaptasi dengan mencari pilihan lain seperti telur atau ikan untuk memenuhi kebutuhan protein harian.


















