investigasiindonesia.com – Menjelang perayaan Idul Adha 1446 Hijriah, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengonfirmasi temuan kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi di Lombok Tengah. Meski sempat menyerang 15 ekor ternak, penanganan cepat berhasil menekan angka hingga tersisa tiga ekor yang masih menunjukkan gejala.
Plt. Kepala Disnakkeswan NTB, Ahmad Masyhuri, menegaskan bahwa situasi telah terkendali berkat respons cepat tim medis dan penerapan protokol kesehatan hewan. “Alhamdulillah, penularan berhasil dicegah. Kami terus memantau perkembangan ternak yang terpapar,” ujarnya di Mataram, Rabu (15/5).
Masyarakat diimbau tetap tenang karena PMK bukan penyakit mematikan. Gejalanya mirip flu pada manusia, seperti demam yang bisa diatasi dengan obat dan vitamin. “Yang penting, penularannya cepat, jadi peternak harus waspada,” tambahnya.
NTB telah menerima 140 ribu dosis vaksin PMK dari pemerintah pusat, dibagikan gratis ke seluruh kabupaten/kota. “Tidak ada biaya sama sekali. Bulan Oktober akan ada tambahan lagi untuk memenuhi target 280 ribu dosis,” tegas Masyhuri.
Soal hewan kurban, Disnakkeswan mengingatkan agar ternak yang pernah terinfeksi PMK—meski sudah sembuh—tidak dijadikan kurban. Virus bisa bertahan hingga dua tahun dalam tubuh hewan. Untuk menjamin keamanan, pengawasan lalu lintas ternak akan diperketat menjelang hari raya.
“Semua daerah di NTB wajib aktif memantau kesehatan hewan. Kami ingin memastikan masyarakat mendapat ternak kurban yang sehat dan layak,” pungkas Masyhuri.
Langkah proaktif ini menjadi bukti keseriusan pemerintah melindungi peternak dan konsumen, sekaligus menjaga tradisi kurban tetap aman dan bermakna.


















