investigasiindonesia.com – Kepemimpinan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, menuai sorotan pedas dari Bendahara Umum Pusat Garuda Emas, Randy Bugis Petta LOLO DAENG Ningae alias Madam Bonita. Loyalis Prabowo Subianto ini tak segan menyampaikan kritik terbuka terhadap kinerja Iqbal yang dinilai lamban dalam mengakselerasi pembangunan, khususnya di sektor pariwisata.
Dalam jumpa pers di Mataram, Madam Bonita dengan tegas menyatakan bahwa program-program Gubernur Iqbal belum memberikan dampak signifikan bagi kemajuan pariwisata NTB. “Jujur kita katakan, program-programnya belum jelas. Khususnya di sektor pariwisata. Saya melihat ini agak lamban,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya kebijakan yang cepat, efektif, dan efisien untuk membangun ekosistem pariwisata yang kompetitif. Menurutnya, NTB memiliki potensi besar sebagai destinasi halal tourism dan budaya, namun belum dimanfaatkan secara optimal. “Dengan konsep halal tourism yang kuat dan keragaman budaya, NTB seharusnya bisa menarik lebih banyak wisatawan. Tapi realitanya, perkembangan pariwisata masih jalan di tempat,” tegas Madam Bonita.
Salah satu masalah utama yang disorot adalah lemahnya branding pariwisata NTB. Meski menjadi tuan rumah berbagai event internasional seperti MotoGP di Sirkuit Mandalika, pemerintah dinilai gagal memanfaatkan momentum tersebut untuk meningkatkan daya tarik wisata. Selain itu, masalah keramahan (hospitality) dan keamanan bagi wisatawan juga belum ditangani dengan serius.
Madam Bonita juga menyoroti mahalnya biaya transportasi menuju NTB. “Biaya dari Jakarta ke Malaysia atau Singapura lebih murah daripada ke NTB. Bahkan dari NTB ke Bali juga masih mahal. Janji Gubernur untuk menambah jumlah penerbangan hingga kini belum terealisasi,” ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa pembangunan pariwisata bukan sekadar seremonial, tetapi membutuhkan kolaborasi semua pihak. “Ini bukan cuma menjemput dan mengantar tamu, tapi membangun ekosistem yang solid. Semua elemen masyarakat harus bersatu padu mewujudkan NTB sebagai destinasi kelas dunia,” tandasnya.
Kritikan ini menjadi tamparan keras bagi Gubernur Iqbal, yang kini berada di bawah tekanan untuk membuktikan komitmennya dalam memajukan NTB. Apakah Iqbal akan merespons dengan langkah-langkah konkret, atau justru membiarkan NTB tertinggal dalam persaingan pariwisata global? Waktu yang akan menjawab.


















