investigasiindonesia.com – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) membuktikan bahwa koperasi konvensional masih bernafas, bahkan menyumbang miliaran rupiah bagi perekonomian daerah. Meski 46% koperasi dinyatakan tidak aktif, sisanya—54%—justru menunjukkan geliat yang luar biasa dengan volume usaha mencapai Rp3 triliun pada tahun 2024. Angka ini melonjak hampir dua kali lipat dari perkiraan awal sebesar Rp1,7 triliun, membuktikan bahwa koperasi masih memegang peran vital di NTB.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM NTB, Ahmad Masyhuri, mengungkapkan bahwa kondisi koperasi di NTB lebih baik dibanding rata-rata nasional. “Secara nasional, hanya 44% koperasi yang aktif, sedangkan di NTB mencapai 54%. Artinya, kami lebih unggul,” tegasnya.
Yang lebih mencengangkan, kontribusi koperasi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB yang mencapai Rp146 triliun ternyata menyumbang sekitar 2%. “Ini angka yang signifikan. Koperasi tetap menjadi tulang punggung perputaran uang di daerah,” papar Masyhuri.
Pemerintah NTB kini fokus pada kebijakan revitalisasi, terutama dengan memperketat syarat modal untuk koperasi simpan pinjam. “Dulu cukup Rp15 juta, sekarang harus memiliki rekening minimal Rp500 juta. Ini langkah untuk memastikan koperasi benar-benar sehat dan berkontribusi maksimal,” jelasnya.
Dengan data yang terus diverifikasi dan potensi yang terus berkembang, koperasi NTB membuktikan bahwa mereka bukan sekadar “hidup segan, mati tak mau”, melainkan siap melesat menjadi pilar ekonomi daerah yang tak bisa diabaikan!


















