banner 728x250

Kisah Pilu Jemaah Haji Lombok, Terhambat Ibadah di Tanah Suci Akibat Kartu Nusuk yang Tak Kunjung Terbit

banner 120x600
banner 468x60

investigasiindonesia.com – Suasana haru dan kekecewaan mendalam menyelimuti perjalanan spiritual jemaah haji asal Embarkasi Lombok tahun 2025. Ratusan jemaah terpaksa menghadapi kenyataan pahit: mereka tidak bisa memasuki Masjidil Haram untuk menjalankan rangkaian ibadah karena kartu Nusuk—dokumen wajib untuk akses ke area suci—belum juga diterbitkan.

Samsul Rizal, salah satu jemaah asal Kota Mataram, mengungkapkan betapa frustrasinya situasi ini. Dari 394 jemaah dalam Kloter 9, hampir separuhnya terancam gagal beribadah karena kartu Nusuk yang dijanjikan pihak penyelenggara haji Arab Saudi tak kunjung diberikan. “Kami sudah diberi janji berulang kali: setelah Subuh, lalu Asar, kemudian malam hari. Namun, hingga detik ini, kartu itu belum ada,” ujarnya dengan nada sedih.

banner 325x300

Dua syarikah (perusahaan penyelenggara) yang bertanggung jawab, yaitu Syarikah Ibadah dan Ayyamul Bidh, menunjukkan kinerja yang kontras. Jika jemaah yang ditangani Ayyamul Bidh sudah menerima kartu mereka, nasib jemaah di bawah Syarikah Ibadah justru terkatung-katung. “Ini situasi yang tidak pernah kami alami sebelumnya,” tambah Rizal.

Tanpa menyerah, Rizal dan rekan-rekannya berusaha mencari celah. Mereka menyusun strategi dengan membentuk barisan: 18 jemaah yang sudah memiliki kartu Nusuk berada di depan, sementara sisanya mengikuti di belakang. “Alhamdulillah, akhirnya kami bisa masuk. Tapi ini bukan solusi yang seharusnya terjadi,” keluhnya.

Masalah tak berhenti di situ. Pembagian hotel bagi jemaah pun berantakan. Dalam Kloter 9 yang terdiri dari 10 rombongan, jemaah tersebar di enam hotel berbeda—seringkali memisahkan suami-istri atau anak dengan orang tua. “Petugas pun kebingungan. Manifest tidak sesuai kenyataan. Suami di satu hotel, istri di tempat lain. Ini sungguh memprihatinkan,” ucap Rizal.

Kekecewaan serupa diungkapkan Rus, jemaah lain yang menyayangkan lambannya respons Kemenag NTB. Ia menduga ada kesalahan pengiriman data jemaah ke Arab Saudi. “Sejak di Madinah, kami hanya menunggu. Hari berganti hari, tapi kartu itu tak kunjung datang,” katanya dengan nada pilu.

Yang lebih menyakitkan, sikap petugas di lapangan dinilai tidak profesional. Saat jemaah emosi karena menunggu terlalu lama, beberapa petugas justru terlihat bercanda. “Untung ada Bu Dewi dan Ustaz Surdi yang membantu menerjemahkan keluhan kami. Mereka pun ikut marah melihat ketidakseriusan ini,” cerita Rus.

Kejadian ini memicu desakan dari jemaah agar pemerintah dan Kemenag segera mengevaluasi kinerja Syarikah Ibadah. Mereka berharap tidak ada lagi jemaah yang harus mengalami hal serupa di masa depan. “Surat edaran sudah jelas, tapi implementasinya berantakan. Ini harus diperbaiki,” tegas Rus.

Sementara itu, harapan tetap menggelora di hati jemaah Lombok. Meski dihimpit masalah, semangat mereka untuk menyempurnakan rukun Islam kelima tak pernah padam.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *