investigasiindonesia.com – Di tengah hiruk-pikuk persiapan pemilu dan dinamika politik nasional, Partai Amanat Nasional (PAN) NTB justru terperangkap dalam ketidakpastian yang memilukan. Susunan pengurus DPW PAN NTB hingga kini masih terbengkalai, padahal sudah sebulan berlalu sejak Lalu Ahmad Zaini (LAZ) ditunjuk sebagai ketua. Kader-kader senior partai mulai gerah, kerja partai mandek, dan masa depan PAN NTB kian suram tanpa kepastian.
Saipul Islam, politisi senior PAN NTB yang telah 15 tahun membesarkan partai, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. “Ini sudah satu bulan. Di daerah lain, pengurusnya langsung terbentuk satu minggu setelah Musda. Sekarang ketua menunaikan ibadah haji. Berarti kita harus menunggu satu bulan lagi,” ujarnya dengan nada prihatin.
Yang lebih mengkhawatirkan, LAZ disebut sebagai sosok yang benar-benar baru di PAN. Tanpa pengalaman yang mumpuni, ia dinilai butuh dukungan kader-kader senior untuk menggerakkan roda partai. Namun, alih-alih berkoordinasi, LAZ justru dikabarkan lebih banyak bertumpu pada arahan DPP PAN. “Kita tidak tahu arahnya ke mana. PAN sekarang seperti partai komando, semuanya tersentralisasi di pusat. Bahkan pemilihan DPC pun ditentukan DPP,” ucap Saipul dengan nada getir.
Sekretariat partai pun masih tidak jelas lokasinya. Padahal, ada sejumlah program bantuan pemerintah dari APBN yang harus segera diajukan. “Bagaimana mau mengusulkan anggaran kalau pengurus saja belum ada?” tanya Saipul.
Ironisnya, dalam pidatonya, LAZ sempat berjanji akan merangkul para pendahulu PAN untuk memajukan partai. Namun, realitanya, komunikasi dengan kader senior nyaris tidak ada. “Boro-boro jadi pemenang pemilu. Sistem pemilu nanti proporsional tertutup, belum lagi Pilkada. Kalau begini terus, PAN NTB bisa terpuruk,” tandasnya.
Di sisi lain, kader PAN dari Sumbawa, Muhamad Aminurlah, masih optimistis. Ia yakin LAZ akan membentuk kepengurusan yang proporsional, merangkul kader lama sekaligus membuka ruang bagi wajah-wajah baru. “Kami percaya beliau akan menjalankan amanah dengan baik. DPP PAN pasti punya pertimbangan matang menunjuk beliau,” kata Maman, panggilan akrabnya.
Namun, keyakinan itu belum cukup untuk meredam kegelisahan kader-kader PAN NTB. Tanpa langkah konkret segera, partai ini bisa terjebak dalam kubangan ketidakpastian—dan yang paling dikhawatirkan: tertinggal jauh sebelum pertarungan pemilu benar-benar dimulai.
Satu pertanyaan besar menggantung: Akankah PAN NTB bangkit dari keterpurukan, atau justru semakin tenggelam di bawah kepemimpinan yang tak jelas arah? Waktu yang akan menjawab.


















