investigasiindonesia.com – Cuaca tak menentu memaksa petani tembakau di Lombok Timur menggeser jadwal tanam tahun ini. Biasanya, musim tanam tembakau virginia dan rajang dimulai awal Mei, tetapi tahun ini baru akan dimulai Juni. Penyebabnya? Hujan yang masih kerap turun, membuat petani memilih menahan diri agar tidak kehilangan bibit seperti tahun sebelumnya.
Kabid Perkebunan Dinas Pertanian Lombok Timur, Mirza Sofian, membenarkan bahwa penundaan ini jadi langkah bijak. “Kalau dipaksakan tanam sekarang, risikonya besar. Tahun lalu, ribuan hektar tembakau mati karena hujan berlebihan,” jelasnya. Meski begitu, beberapa petani nekat menanam lebih awal. Kabar baiknya, belum ada laporan tanaman yang gagal—meski jumlahnya sangat sedikit.
BMKG memprediksi hujan masih akan turun hingga akhir Mei, tapi awal Juni diperkirakan cuaca sudah stabil. Menyikapi ini, Dinas Pertanian telah mengeluarkan surat edaran dan sosialisasi ke petani, perusahaan, hingga asosiasi tembakau untuk menunda tanam. “Kami tidak bisa melarang petani beralih ke komoditas lain, tapi kami sarankan menunggu Juni agar hasilnya optimal,” tambah Mirza.
Belajar dari pengalaman pahit tahun lalu, petani kini lebih siap. Mereka membuat saluran irigasi di tengah sawah untuk mencegah genangan air jika hujan lebat datang. Langkah ini diharapkan meminimalisir kerugian.
Meski musim tanam mundur, target luas lahan tidak berubah: 13.857 hektar untuk tembakau virginia dan 10.086 hektar untuk rajang. Minat petani tetap tinggi karena harga tembakau virginia dalam tiga tahun terakhir terus naik, bahkan pernah menyentuh Rp74 ribu/kg untuk kualitas terbaik. Namun, Mirza mengingatkan agar petani tembakau rajang tidak berlebihan menanam. “Stok melimpah bisa bikin harga anjlok, seperti yang terjadi tahun lalu,” tegasnya.
Dengan persiapan matang dan koordinasi intensif, petani Lombok Timur berharap musim tanam tahun ini bisa membawa hasil maksimal—tanpa dihantui gagal panen seperti sebelumnya.


















